RAGAM NUSANTARA

ILMU

JELAJAH

Pakar kajian Eropa Timur dan Rusia sekaligus dosen hubungan internasional dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR) Radityo Dharmaputra S Hub Int M Hub Int RCEES IntM MA (Foto: Istimewa)

Indonesia Pertimbangkan Gabung BRICS, Dosen UNAIR Berikan Tanggapan Dampak Geopolitik

NYALANUSANTARA, Surabaya – Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, baru saja mengumumkan minat Indonesia untuk bergabung dengan blok ekonomi BRICS dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS Plus ke-16 di Kazan, Rusia. 

Langkah ini menuai respons kritis dari akademisi, termasuk Radityo Dharmaputra, dosen Hubungan Internasional dari Universitas Airlangga (UNAIR), yang mengkhawatirkan dampak geopolitik dan potensi pergeseran posisi netral Indonesia di kancah global.

Menurut Radityo, niat bergabung dengan BRICS—gabungan negara Brasil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan—seharusnya tidak dipandang hanya dari perspektif ekonomi. 

Meski BRICS bertujuan memperkuat posisi negara-negara berkembang dalam menghadapi dominasi negara-negara maju, Radityo mengingatkan bahwa langkah ini justru bisa bertentangan dengan prinsip “bebas-aktif” Indonesia dalam politik luar negeri.

“Kepentingan Indonesia harus diprioritaskan. Prinsip bebas-aktif seharusnya didasarkan pada pemenuhan kepentingan nasional,” ujar Radityo.

Di sisi ekonomi, Radityo berpendapat bahwa BRICS mungkin tidak memberikan manfaat berarti bagi Indonesia. 

“Jika tujuannya ekonomi, BRICS tidak akan banyak membantu. Indonesia sudah memiliki hubungan baik dengan negara-negara anggota BRICS,” katanya. 


IKUTI BERITA NYALANUSANTARA.COM SELENGKAPNYA DI GOOGLE NEWS


Editor: Admin

Komentar

Baca Juga

Terkini