RAGAM NUSANTARA

ILMU

JELAJAH

Cegah ASF, Kementan Gandeng Pemprov Kalbar dan FAO Luncurkan Program Biosekuriti

Kalimantan Barat menempati peringkat keenam secara nasional dalam hal jumlah populasi babi domestik tertinggi, dengan 80% di antaranya berada di peternakan rakyat yang mengikuti pola peternakan tradisional. Namun penerapan biosekuriti di wilayah tersebut masih kurang. 

Lebih lanjut Ani Sofian menjelaskan, tingginya risiko penyakit ASF di Kalimantan Barat berdampak pada penurunan populasi babi, kenaikan harga daging babi yang signifikan, dan kerugian ekonomi yang tinggi bagi peternak babi skala kecil.

Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor Leste, Rajendra Aryal, menekankan pentingnya dukungan dan partisipasi semua pihak untuk pencegahan ancaman ASF. CABI diharapkan dapat direplikasi di wilayah lain untuk melindungi industri peternakan babi di tanah air dan meningkatkan sistem kesehatan hewan Indonesia secara berkelanjutan. 

“FAO berkomitmen untuk bekerja sama dengan Kementerian Pertanian serta pemerintah subnasional dan daerah untuk memberikan dukungan teknis yang diperlukan bagi pencegahan Demam Babi Afrika yang efektif di Indonesia,” ucap Aryal.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Barat, Heronimus Hero, melihat bantuan tersebut sangat bermanfaat untuk mencegah penyakit ASF dan penyakit lainnya sekaligus menjaga kualitas produk babi. 

“Kami berharap semakin banyak peternak dapat menerapkan biosekuriti di peternakannya dan penerapan program CABI dapat dilakukan secara maksimal untuk membangkitkan kembali minat masyarakat untuk kembali beternak babi,” pungkas Hero.


IKUTI BERITA NYALANUSANTARA.COM SELENGKAPNYA DI GOOGLE NEWS


Editor: Redaksi

Komentar

Baca Juga

Terkini