RAGAM NUSANTARA

ILMU

JELAJAH

Pulang ke Indonesia, Mantan Tenaga Migran di Malaysia Ini Kini Sukses Bangun Bisinisnya

NYALANUSANTARA, Jember- Belum lama ini Kepala Biro Hukum dan Humas Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), Hadi Wahyuningrum, mengunjungi tempat usaha seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) Purna yang sukses di Watu Ulo, Jember, Jawa Timur.
  
Pemilik usaha tersebut adalah Subakri Firdaus, atau akrab disapa Cak Sukri. Ia sebelumnya telah bekerja di Malaysia sejak tahun 1995.

Selama berada di Malaysia, Cak Sukri bekerja di bidang konstruksi dan hospitality. Setelah kembali ke Indonesia, ia memutuskan untuk membuka usaha sendiri dengan mendirikan sebuah toko sembako dan membangun koperasi. Meskipun kini sukses, Cak Sukri mengungkapkan bahwa perjalanan usahanya tidaklah mudah.

“Tapi tidak banyak orang tahu, jatuh bangun membangun usaha sampai jadi kedai seperti ini, jalannya nggak mulus. Sebelum jadi kedai ini, bahkan harus nguruk tanah sendiri,” ujar Cak Sukri saat berbicara di depan awak media dan Komunitas Keluarga Buruh Migran Indonesia (KKBM) Jember.

Cak Sukri juga menegaskan bahwa ia tidak berniat untuk kembali bekerja ke Malaysia. Dengan usaha yang dijalankannya saat ini, ia mengaku mampu meraih omzet sekitar 40 hingga 50 juta rupiah per bulan. 

“Dari uang hasil kerja dan menabung, saya dan istri saya kebetulan punya pengalaman memasak seafood. Kalau saya kembali ke Malaysia, belum tentu saya dapat gaji lebih banyak dari yang saya dapat sekarang,” jelasnya.

Setelah mendengarkan kisah sukses Cak Sukri, Kepala Biro Hukum dan Humas KP2MI, Hadi Wahyuningrum, atau akrab disapa Yayuk, membuka sesi sharing dengan Komunitas Keluarga Buruh Migran Indonesia (KKBM) Jember. Dalam sesi itu, Yayuk mendengarkan keresahan yang dialami oleh para pekerja migran purna asal Jember beserta keluarganya.

“Di pusat, kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Cak Sukri dan komunitas. Kami ingin menerima masukan dan sharing tentang apa saja keresahan kawan-kawan mengenai pelindungan pekerja migran saat ini,” ungkap Yayuk.

Yayuk menambahkan bahwa masukan yang diperoleh akan didata dan menjadi bahan untuk penyusunan regulasi baru di pusat. Misalnya, untuk wilayah Jember yang dekat dengan laut, pemberdayaan bisa difokuskan pada pengolahan hasil laut.

Selain itu, Yayuk juga menyoroti peran penting komunitas, seperti KKBM, dalam pemberdayaan dan pelindungan pekerja migran. Komunitas ini tidak hanya membantu mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh calon pekerja migran, seperti pemerasan oleh oknum, tetapi juga memberikan pelatihan keahlian. 

“Banyak laporan dari teman-teman komunitas yang menerima aduan dan membantu calon pekerja migran. Hal ini membuktikan bahwa lembaga pemerintah tidak dapat bekerja sendirian, kolaborasi adalah solusinya,” pungkas Yayuk.
 


IKUTI BERITA NYALANUSANTARA.COM SELENGKAPNYA DI GOOGLE NEWS


Editor: Redaksi

Komentar

Baca Juga

Terkini