RAGAM NUSANTARA

ILMU

JELAJAH

Datangkan Seniman dari Malaysia, Kolektif Hysteria Gelar 'Hajatan' melalui Screen Printing

NYALANUSANTARA, Semarang - Kolektif Hysteria kembali mendatangkan seniman dari luar Kota Semarang, melalui Program Seniman Residensi, Kandang//Tandang.

Pada perhelatan Kandang// Tandang bertajuk,"Hajatan," tersebut, Kolektif Hysteria menggaet seniman dari Malaysia, bernama Siti Gunong.

"Pada residensi kali ini, seniman yang kami datangkan namanya Siti Gunong. Dia fokus pada seni visual, khususnya sablon screen printing," kata Sirril Wafa, selaku Project Manager Program Residensi Seniman Kandang//Tandang Kolektif Hysteria.

Pemilihan Siti Gunong untuk mengisi program tersebut, bukan tanpa alasan.

Sirril mengatakan bahwa ada hal menarik terkait metode yang diberikan oleh Siti Gunong, khususnya dalam bidang sablon.

"Kalau mayoritas screen printing itu pakai digital, si Siti ini justru pakai metode manual yang sederhana, DIY, kita menyebutnya. Itu yang membuat menarik," kata Sirril.

"Jadi, sebenarnya orang awam pun bisa ikut serta untuk workshop ini karena alasan itu. Nggak cuma seniman sablon yang punya alat digital printing, atau keahlian untuk itu," lanjut pemuda asal Demak itu lagi.

Selain metode yang ramah untuk pemula, Sirril juga menjelaskan jika karya-karya Siti cukup berbeda dari seniman dari Indonesia kebanyakan.

"Karya dia RAW gitu, bukan yang bersih gitu, kayak seniman visual biasanya. Terus juga yang diangkat lebih pada hal-hal yang dia temui saat itu. Itu yang bikin menarik," jelas Sirril.

Lebih dekat, Siti Gunong menjelaskan bahwa dirinya sudah 5 tahun mendalami dunia sablon, sebelum akhirnya meniti karier sebagai seniman visual.

"Aku telah menjadi seniman selama 2 tahun. Sebelum ni aku bekerja sebagai anak sablon, selama 5 tahun," ungkap Siti Gunong.

Ia mengatakan bahwa selama menjadi seniman, perempuan asli Sarawak itu sudah seringkali menggelar pemaren di Malaysia.

Meski begitu, agendanya bersama Kolektif Hysteria adalah pengalaman pertamanya berkarya di luar negeri.

"So, untuk aku ini pertama kali aku bikin pameran di luar Malaysia. Dan pertama kali juga aku bikin pameran, yang sebelum pameran itu ada workshop. So, sangat-sangat benar baru untuk aku," aku Siti.

Diketahui sebelumnya, program tersebut memang memiliki beberapa agenda. Yakni lokakarya/workshop dan pameran.

Sehingga, para seniman yang diundang, tidak hanya unjuk gigi memamerkan hasil karya mereka.

Melainkan memberikan ilmu kepada para peserta workshop, khususnya seniman internal dari Kolektif Hysteria.Setelah itu, barulah hasil dari lokakarya, dipamerkan.

Pada kesempatan kali ini, Siti membagikan pengalaman dan ilmunya terkait dunia sablon. Tepatnya, menyablon atau screen printing, melalui metode stensil.

"Aku bikin method yang paling mudah. So, aku bikin stensil," kata Siti.

Perihal tajuk acara, Siti menjelaskan bahwa "Hajatan" dipilih, teryata memiliki alasan tersendiri. Hal ini berkaitan dengan objek yang ia gunakan. Seperti makanan, piring, dan meja makan.

"Beberapa tahun ini, aku sangat banyak tertarik pada makanan. Soalnya, sebelum ini aku memang orang yang tidak peduli sama makanan," ujar Siti.

"Orang yang memang nggak tahu apa yang aku makan. Kalau bisa, makan sekali sehari itu udah cukup," lanjut dia.

Namun pada akhirnya, ia sadar, bahwa makanan menjadi objek yang penting baginya. Sebab makanan bisa menjadi medium seseorang untuk menyampaikan pesan, emosi dan nilai-nilai kehidupan, melalui visual.

"Saya percaya, bahwa ketika ketika kta memasak, kita secara tidak langsung meletakkan perasan kita ke dalamnya," ujarnya.

"Seperti kejujuran, keikhlasan, kemarahan, rasa bersyukur dan lainnya. Namun, tergantung juga kepada siapa itu (makanan) diberikan (pada akhirnya," lanjut perempuan 28 tahun tersebut.

Ia juga menegaskan bahwa kegiatan memasak, bisa menjadi bentuk meditasi.

"Sebuah ruang untuk kita merenung dan menyelami diri sendiri," tegas Siti.

Terkait hal itu, dalam proses lokakarya, Siti menemukan sebuah karya yang menurutnya menarik.

"Dari image itu, aku sangat-sangat tertarik, gimana mereka ekspresi benda sangat dalam. Bukannya dari kata-kata," ujar Siti.

"So, macam Izza. Aku nggak kenal Izza sepenuhnya, aku selalu notice kehadiran Izza. Tapi, Izza yang bikin karya itu beda," lanjutnya.

Dari sana, ia bisa sedikit banyak lebih mengenal personal Izza, secara tidak langsung.

"Selepas dia bikin karya itu, dia udah luapkan benda yang lebih personil," lanjut dia.

Dalam praktiknya, lokakarya yang digelar di Grobak Art Kos, Jl. Stonen 29, Bendan Ngisor, Kec. Gajahmungkur, Kota Semarang, pada tanggal 25 dan 25 Agustus 2025 tersebut, diikuti setidaknya 5 orang partisipan.

Yakni Bob Menolak Sadar, Hanalogi Semata, Izza Nadiya, Muhammad Syaifurrahman dan Ragil Maulana.

"Pamerannya digelar di Rumah Po Han, tanggal 26 sampai dengan 31 Agustus ini," kata Sirril.

Program Seniman Residensi Kadang//Tandang sendiri, masuk dalam rangkaian Penta Klabs 5, yang digelar oleh Kolektif Hysteria selama sebulan penuh pada Agustus 2025.

Agenda tersebut, didukung oleh Event Strategis, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia (RI), melalui Program Dana Indonesiana.


IKUTI BERITA NYALANUSANTARA.COM SELENGKAPNYA DI GOOGLE NEWS


Editor: Holy

Komentar

Baca Juga

Terkini