RAGAM NUSANTARA

ILMU

JELAJAH

NETFLIX

ULASAN Homefront: Aksi Brutal Berbalut Drama Ayah dan Anak

Masih ingat dengan Carnage? Film drama arahan Roman Polanski yang dibintangi Kate Winslet, Christoph Waltz, Jodie Foster, dan John C. Reilly itu menampilkan dua pasangan orangtua yang terlibat adu argumen akibat perkelahian anak mereka di sekolah. Premis serupa juga menjadi dasar cerita Homefront. Bedanya, alih-alih saling berdebat di ruang tamu, konflik di film ini berkembang menjadi pertarungan hidup dan mati.

Kehadiran Jason Statham sebagai pemeran utama sudah menjadi jaminan bahwa film ini dipenuhi adegan aksi keras dan berdarah. Namun menariknya, Homefront tidak hanya mengandalkan baku hantam. Film ini juga menyelipkan drama hubungan ayah dan anak yang cukup menyentuh, membuatnya lebih dari sekadar tontonan aksi biasa.

Diadaptasi dari novel karya Chuck Logan oleh Sylvester Stallone, film ini mengisahkan Phil Broker (Statham), mantan agen yang pindah ke kota kecil di Louisiana bersama putrinya yang berusia 10 tahun, Maddy (Izabela Vidovic), demi mencari kehidupan yang lebih tenang. Ketenteraman itu terusik ketika Maddy terlibat perkelahian di sekolah setelah membela diri dari gangguan seorang anak bernama Teddy.

Orangtua Teddy, Jimmy dan Cassie, tidak terima anak mereka dilukai. Cassie (Kate Bosworth) lalu meminta bantuan kakaknya, Gator Bodine (James Franco), seorang bandar narkoba setempat. Awalnya Gator hanya mengintimidasi Phil dan putrinya. Namun setelah mengetahui latar belakang Phil, ia melihat peluang untuk memanfaatkan masa lalu sang mantan agen demi kepentingan bisnis haramnya. Bersama kekasihnya Sheryl (Winona Ryder), Gator menghubungi sosok dari masa lalu Phil yang bersedia melakukan apa pun untuk membunuhnya.

Dari sinilah konflik berkembang menjadi peperangan terbuka.

Secara naskah, Homefront memang tak lepas dari formula klise khas film aksi—musuh lama, kota kecil penuh rahasia, hingga ancaman terhadap keluarga sang protagonis. Namun tangan terampil sutradara Gary Fleder—yang sebelumnya menggarap Kiss the Girls, Don't Say a Word, dan Runaway Jury—mampu mengemasnya dengan ritme cepat dan intens. Adegan aksinya brutal tapi tidak terasa berlebihan, sementara drama emosional antara ayah dan anak tetap mendapat ruang yang cukup.

Statham tampil prima di zona nyamannya sebagai pria tangguh. Namun yang menarik, ia juga cukup meyakinkan saat memainkan sisi lembut seorang ayah. Chemistry-nya dengan Izabela Vidovic terasa hangat dan natural, memberi bobot emosional pada cerita. Deretan pemeran pendukung seperti James Franco, Winona Ryder, dan Kate Bosworth turut memberikan performa solid yang memperkaya dinamika konflik.

Dari sisi produksi, Homefront hadir dengan nuansa film aksi era 1970–1980-an—kasar, sederhana, namun efektif membangun ketegangan.

Pada akhirnya, Homefront memang bukan film aksi yang revolusioner. Naskahnya masih terjebak dalam pola konflik dan dialog yang familiar. Namun berkat penyutradaraan yang cekatan dan jajaran pemain yang kuat, film ini tetap berhasil menjadi tontonan aksi yang menegangkan sekaligus cukup emosional. Sebuah sajian yang mungkin tidak istimewa, tetapi jelas menghibur dan layak dinikmati penggemar genre aksi.


IKUTI BERITA NYALANUSANTARA.COM SELENGKAPNYA DI GOOGLE NEWS


Editor: Lulu

Komentar

Baca Juga

Terkini