RAGAM NUSANTARA

ILMU

JELAJAH

Review Film We, Everyday: Kisah Persahabatan dan Cinta Remaja yang Hangat dan Melankolis

Film Korea We, Everyday akhirnya resmi dirilis pada 2026 setelah sempat mengalami penundaan cukup lama. Film ini menarik perhatian publik bukan hanya karena mengangkat kisah cinta remaja yang ringan, tetapi juga karena menjadi salah satu karya terakhir aktris muda Kim Sae-ron.

Dipadukan dengan penampilan aktor muda Lee Chae-min, film ini menghadirkan cerita tentang persahabatan masa sekolah yang perlahan berubah menjadi hubungan yang lebih kompleks ketika mereka memasuki masa SMA.

Sinopsis Film

Cerita berpusat pada tiga sahabat sejak kecil: Yeo Wool, Ho Soo, dan Joon Yeon. Ketiganya hampir selalu menghabiskan waktu bersama, terutama karena mereka memiliki hobi yang sama, yaitu bermain basket.

Lapangan basket menjadi tempat mereka berbagi cerita, bercanda, dan menikmati masa remaja dengan penuh keceriaan. Namun ketika mereka memasuki masa SMA, hubungan tersebut mulai berubah.

Masing-masing mulai memiliki impian, pandangan hidup, dan perasaan yang berbeda. Situasi menjadi semakin rumit ketika salah satu dari mereka mengungkapkan perasaan cinta. Dari situ, hubungan persahabatan mereka mulai diuji.

Tanpa disadari, ketiganya terjebak dalam hubungan yang lebih kompleks: persahabatan yang berubah menjadi cinta segitiga. Mereka pun harus belajar jujur terhadap perasaan masing-masing demi mempertahankan hubungan yang telah terjalin sejak lama.

Cerita Remaja yang Relatable

Secara premis, film ini memang tidak menawarkan konsep yang benar-benar baru. Tema persahabatan SMA, cinta pertama, dan pencarian jati diri sudah sering muncul dalam film remaja.

Namun justru kesederhanaan itulah yang membuat cerita terasa dekat dengan kehidupan banyak orang. Film ini dipenuhi momen kecil yang realistis—mulai dari latihan basket, percakapan santai di kelas, hingga kebersamaan setelah pulang sekolah.

Nuansa persahabatan yang hangat juga terasa kuat. Interaksi antar karakter terlihat natural sehingga penonton bisa merasakan kedekatan yang sudah terbangun di antara mereka sejak lama.

Penampilan Emosional Kim Sae Ron

Salah satu kekuatan utama film ini tentu saja adalah akting Kim Sae Ron sebagai Yeo Wool. Ia tampil natural dan berhasil menggambarkan karakter remaja yang terlihat kuat di luar, tetapi sebenarnya sedang kebingungan menghadapi perasaannya sendiri.

Ekspresi wajah dan bahasa tubuh yang ia tampilkan sederhana namun penuh emosi. Tanpa banyak dialog dramatis, karakter Yeo Wool tetap terasa hidup.

Sementara itu, Lee Chae Min juga tampil cukup meyakinkan sebagai Ho Soo, sahabat yang diam-diam menyimpan perasaan cinta. Chemistry antar pemain terasa cukup kuat sehingga dinamika hubungan mereka terlihat alami di layar.

Visual Sederhana dengan Nuansa Nostalgia

Dari sisi visual, film ini memilih pendekatan yang sederhana. Banyak adegan mengambil latar kehidupan sehari-hari remaja seperti sekolah, jalan pulang bersama, dan tentu saja lapangan basket.

Pendekatan ini justru menghadirkan nuansa nostalgia yang kuat. Penonton seperti diajak kembali mengingat masa sekolah yang penuh dengan momen kecil namun berkesan.

Beberapa Kekurangan Cerita

Meski hangat dan menyentuh, film ini tidak sepenuhnya tanpa kekurangan. Beberapa bagian cerita terasa berpindah terlalu cepat sehingga transisi antar adegan kadang terasa kurang mulus.

Selain itu, beberapa adegan dramatis terasa sedikit dipaksakan. Dalam beberapa momen, emosi yang seharusnya kuat justru terasa agak canggung.

Namun secara keseluruhan, kekurangan tersebut tidak terlalu mengganggu pengalaman menonton.

Nuansa Emosional yang Lebih Dalam

Ada satu hal yang membuat film ini terasa lebih emosional dibanding film remaja pada umumnya. Bagi banyak penonton, We, Everyday terasa seperti kenangan terakhir dari perjalanan karier Kim Sae Ron.

Mengetahui latar belakang tersebut membuat banyak adegan terasa lebih menyentuh dan melankolis, bahkan pada momen yang sederhana sekalipun.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, We, Everyday adalah film coming-of-age yang ringan namun menyentuh. Ceritanya mungkin terasa familiar, tetapi tetap menarik berkat nuansa hangat dan akting natural para pemainnya.

Film ini cocok bagi penonton yang menyukai kisah persahabatan masa sekolah, cinta pertama, dan perjalanan menemukan jati diri.

Lebih dari itu, film ini juga terasa seperti penghormatan kecil bagi perjalanan karier Kim Sae Ron, menghadirkan cerita sederhana tentang masa muda yang kini terasa lebih bermakna bagi banyak penonton.


IKUTI BERITA NYALANUSANTARA.COM SELENGKAPNYA DI GOOGLE NEWS


Editor: Lulu

Komentar

Baca Juga

Terkini