RAGAM NUSANTARA

ILMU

JELAJAH

REVIEW Dracula: A Love Tale – Ketika Luc Besson Membalut Romansa dalam Gothic Horror

Sutradara kenamaan Luc Besson kembali menghadirkan karya unik lewat adaptasi terbaru dari novel vampir klasik Bram Stoker. Bertajuk Dracula: A Love Tale, film ini mencoba keluar dari pakem lama dengan menyoroti sisi romantis sang drakula, alih-alih hanya menggambarkan sosok vampir haus darah.

Kisah Dracula yang Dimodernisasi

Film ini membawa penonton ke abad ke-15, ketika Vladimir kehilangan sang istri tercinta, Elisabeta. Diliputi keputusasaan, ia mengutuk Tuhan dan berakhir terkena kutukan: hidup abadi sebagai Dracula. Segala upaya bunuh diri gagal, hingga ia berkelana berabad-abad mencari sosok yang mirip Elisabeta.

Setelah 400 tahun, wajahnya berubah kian menyeramkan, bahkan menularkan virus vampir kepada manusia lain. Pencariannya akhirnya berakhir ketika ia bertemu Mina Murray, yang rupanya sudah bertunangan dengan Jonathan Harker. Dari sinilah konflik memuncak, saat Vladimir berusaha merebut hati Mina sembari diburu Priest dan Dr. Dumont karena dianggap penyebar wabah drakula.

Review: Antara Potensi dan Eksekusi

Meski sudah banyak adaptasi kisah Dracula sebelumnya, Besson memilih sudut pandang romansa yang lebih kuat. Hubungan Vladimir–Elisabeta memberi sentuhan manusiawi, membuka peluang eksplorasi tentang cinta abadi. Sayangnya, potensi ini tidak sepenuhnya tergarap.

Naskah film terasa lemah, membuat karakter kurang menonjol. Beberapa dialog bahkan terkesan kaku atau “cringey”, sehingga mengurangi keseriusan adegan. Bahkan penampilan aktor kawakan Christoph Waltz pun tampak tidak maksimal.


IKUTI BERITA NYALANUSANTARA.COM SELENGKAPNYA DI GOOGLE NEWS


Editor: Lulu

Komentar

Baca Juga

Terkini