Transformasi BUMN Kesehatan Jadi Fokus Danantara untuk Efisiensi dan Keterjangkauan
NYALAUSANTARA, TANGGERANG- Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Donny Oskaria, menekankan pentingnya transformasi menyeluruh terhadap BUMN yang bergerak di sektor kesehatan dan farmasi. Langkah ini dinilai krusial untuk menciptakan perusahaan yang lebih efisien, sehat secara finansial, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Donny menjelaskan, lima BUMN di sektor kesehatan—yakni Bio Farma, Kimia Farma, Indofarma, INUKI, dan Pertamedika IHC—memiliki karakter dan model bisnis yang berbeda-beda. Karena itu, pendekatan transformasi yang diterapkan tidak bisa diseragamkan, melainkan harus disesuaikan dengan nature of business masing-masing perusahaan.
Ia menegaskan bahwa manajemen yang efisien dan kondisi keuangan yang sehat menjadi kunci agar margin usaha dapat ditekan, sehingga harga produk dan layanan kesehatan bisa lebih terjangkau bagi masyarakat. Khusus Kimia Farma, tantangan utamanya adalah memproduksi obat dengan harga terjangkau sekaligus memastikan produk tersebut dapat terserap pasar.
Selain itu, optimalisasi utilisasi pabrik juga menjadi perhatian serius. Donny menilai utilisasi pabrik yang rendah dapat berdampak buruk pada margin kontribusi, bahkan berujung pada kerugian, meskipun pendapatan perusahaan terlihat tinggi. Rendahnya utilisasi, keterbatasan modal kerja, hingga pemangkasan SKU dinilai menjadi persoalan struktural yang harus dibenahi.
Menurut Donny, restrukturisasi perusahaan tidak cukup hanya bertumpu pada analisis keuangan, tetapi juga harus memperhitungkan momentum yang tepat. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah mengubah struktur holding BUMN kesehatan, dengan tidak lagi menempatkan Bio Farma sebagai holding.
Dalam skema baru, Kimia Farma dan Kimia Farma Apotek akan berada langsung di bawah Danantara. Bahkan, Kimia Farma Apotek tengah dikaji untuk menjadi entitas yang lebih independen, mengingat karakter bisnisnya yang lebih dekat ke sektor ritel dibandingkan manufaktur farmasi.
Danantara juga berencana memberikan suntikan modal ke Kimia Farma pada akhir 2025, yang diharapkan dapat mengembalikan perusahaan ke kondisi keuangan yang sehat. Di sisi operasional, transformasi juga dilakukan melalui pembaruan sistem teknologi informasi di Kimia Farma Apotek, sekaligus peninjauan ulang model bisnis agar lebih modern dan relevan, termasuk dengan memperluas produk ke sektor seperti beauty dan gaya hidup kesehatan.
Sementara itu, untuk Bio Farma, Donny menyebut pihaknya tengah menyusun roadmap pengembangan pabrik vaksin. Namun, ia mengingatkan agar setiap rencana investasi dilakukan secara hati-hati dan terukur, agar tidak berujung pada overinvestasi yang justru menekan kinerja laba perusahaan.
Editor: Lulu
Terkait
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Danantara Indonesia, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Badan pengelola investasi pemerintah, Danantara Indonesia dan…
Terkini
NYALANUSANTARA, Semarang— Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi akan…
NYALANUSANTARA, Samarinda— Persija Jakarta akan menghadapi Persib Bandung…
UNDIP Diundang BNPB Peragakan Inovasi Robot Kecoa, Peluang Besar Kerjasama Penanganan Korban Bencana
NYALANUSANTARA, Jakarta - Tim Cyborg Insect Fakultas Teknik…
NYALANUSANTARA, Semarang— Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin…
NYALANUSANTARA, Padang— Semen Padang FC akan menjamu Persik…
NYALANUSANTARA, Ungaran - Warga sekitar kawasan Rawa Pening,…
NYALANUSANTARA, Semarang– Menyambut momentum Iduladha 1447 H, Dompet…
NYALANUSANTARA, Semarang - Tim basket putra Universitas Semarang…
NYALANUSANTARA, Semarang – Universitas Diponegoro (UNDIP) menandatangani Nota…
NYALANUSANTARA, Semarang — Ketua Komisi B DPRD Kota…
NYALANUSANTARA, Jakarta - Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan…
Komentar