Rendahmya Free Float Buat Pasar Saham Indonesia Rentan Manipulasi

Rendahmya Free Float Buat Pasar Saham Indonesia Rentan Manipulasi

NYALANUSANTARA, Jakarta– Anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga 8 persen pada perdagangan 28 Januari 2026 yang memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan saham dinilai sebagai puncak krisis kepercayaan pasar. 

Pengamat ekonomi Dr. Noviardi Ferzi menilai rendahnya free float saham pada banyak emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menjadi masalah struktural serius yang membuat pasar modal nasional rentan manipulasi, tidak efisien, dan rawan krisis kepercayaan.

Menurut Noviardi, dominasi pemegang saham pengendali yang terlalu besar, dengan porsi saham publik yang minim, menyebabkan mekanisme pasar kehilangan fungsi utamanya sebagai sarana pembentukan harga yang adil dan berbasis fundamental.

“Ketika free float terlalu kecil, pasar menjadi dangkal. Harga saham mudah digerakkan, likuiditas semu, dan investor ritel berada pada posisi paling rentan. Ini bukan pasar yang sehat,” tegas Noviardi, Minggu, 1 Februari 2026.

Ia menilai, fenomena lonjakan harga saham secara ekstrem yang kerap diikuti kejatuhan tajam bukan semata persoalan perilaku investor, melainkan konsekuensi langsung dari struktur kepemilikan saham yang timpang.

Dalam kondisi tersebut, pergerakan harga lebih ditentukan oleh kelangkaan saham di publik ketimbang kinerja perusahaan.

Lebih jauh, Noviardi mengingatkan bahwa free float kecil juga menciptakan distorsi persepsi nilai pasar. Kapitalisasi saham terlihat besar, namun tidak didukung likuiditas memadai, sehingga berisiko menimbulkan gejolak sistemik ketika terjadi aksi jual besar atau perubahan sentimen global.


Editor: Redaksi

Terkait

Komentar

Terkini