Siti Mukaromah Ingatkan UMKM Waspadai Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Inflasi dan Harga Bahan Baku
ISTIMEWA
NYALANUSANTARA, TANGGERANG- Anggota Komisi VII DPR RI, Siti Mukaromah, mengingatkan para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar lebih waspada terhadap dampak konflik di kawasan Timur Tengah. Ia menilai eskalasi geopolitik berpotensi mendorong kenaikan inflasi serta memicu fluktuasi harga bahan baku impor yang selama ini masih digunakan banyak pelaku usaha kecil di Indonesia.
Dalam keterangannya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Erma—sapaan akrabnya—menyebut konflik global tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi makro, tetapi juga langsung dirasakan pelaku UMKM di daerah. Menurutnya, ketergantungan terhadap bahan baku impor membuat UMKM sangat sensitif terhadap perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
“Inflasi pasti akan semakin tinggi. Salah satu yang terdampak adalah UMKM karena masih banyak yang bergantung pada bahan baku impor dan harganya mengikuti naik turunnya dolar,” ujarnya.
Legislator dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah VIII (Banyumas dan Cilacap) itu mencontohkan sektor boga, seperti produsen kue dan makanan olahan, yang sebagian bahan bakunya masih berasal dari luar negeri. Ketika harga bahan naik akibat gangguan distribusi global atau pelemahan nilai tukar, biaya produksi otomatis meningkat. Kondisi tersebut berpotensi menekan margin keuntungan pelaku usaha.
Ia mengingatkan agar pelaku UMKM lebih cermat dalam mengatur pembelian bahan baku dan perhitungan harga jual. Jangan sampai pelaku usaha membeli bahan dengan harga lama, lalu menjual produk dengan harga yang tidak lagi mencukupi untuk menutup biaya produksi ketika harga bahan kembali melonjak.
Meski belum ada formulasi kebijakan khusus yang dirancang untuk merespons situasi ini, Erma mengaku telah berdiskusi dengan sejumlah pihak yang memiliki perhatian terhadap pengembangan UMKM. Menurutnya, langkah mitigasi harus dipersiapkan sejak dini agar dampak gejolak global tidak semakin meluas.
Selain itu, ia menyarankan pelaku UMKM untuk tidak terlalu agresif melakukan ekspansi usaha di tengah ketidakpastian global. Pengembangan bisnis sebaiknya dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kestabilan modal serta daya beli masyarakat. Langkah hati-hati dinilai lebih aman dibandingkan ekspansi besar yang berisiko ketika kondisi ekonomi belum stabil.
Erma juga menyinggung dampak konflik terhadap sektor lain, termasuk perjalanan ibadah umrah yang dapat terganggu akibat perubahan rute atau pembatasan penerbangan di kawasan Timur Tengah. Situasi ini, menurutnya, perlu diantisipasi menjelang musim haji setelah Ramadhan.
Ia berharap situasi global segera membaik sehingga stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga. Dengan kondisi yang lebih kondusif, aktivitas masyarakat, termasuk pelaku UMKM, dapat kembali berjalan normal tanpa tekanan berkepanjangan akibat gejolak internasional.
Editor: Lulu
Terkini
NYALANUSANTARA, Surakarta – Kanwil Kemenkum Jateng bersama Balai…
NYALANUSANTARA, Yogyakarta- Pemain PSIM Yogyakarta, Reva Adi Utama,…
NYALANUSANTARA, Semarang– Jisco Marine Co., Ltd, Busan, Korea…
NYALANUSANTARA, Semarang - Memasuki periode musim kemarau tahun…
NYALANUSANTARA, BEIJING- Output industri di China mencatat pertumbuhan 6,1…
Kuliah Umum Food Tech UDB Surakarta: Sinergi Agribisnis dan Teknologi Pangan untuk Kedaulatan Pangan
NYALANUSANTARA, Surakarta - Di tengah tantangan pangan global,…
NYALANUSANTARA, Bandar Lampung- PSIM Yogyakarta akan menghadapi laga…
NYALANASANUSA, Slawi- Pemerintah Kabupaten Tegal terus berupaya meningkatkan…
NYAlANUSANTARA, Gunungkidul- Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY),…
NYALANUSANTARA, Kulon Progo- Pemerintah Kabupaten Kulon Progo menggelar…
NYALANUSANTARA, Semarang – PT KAI Daop 4 Semarang…
Komentar