Indonesia Beralih ke Pengelolaan Sampah Berbasis Energi Terbarukan

Indonesia Beralih ke Pengelolaan Sampah Berbasis Energi Terbarukan

ISTIMEWA

NYALANUSANTARA, JAKARTA- Selama bertahun-tahun, sistem pengelolaan sampah di Indonesia masih didominasi pola kumpul, angkut, dan buang ke tempat pemrosesan akhir (TPA). Meskipun metode tersebut mampu menjaga layanan persampahan tetap berjalan, pendekatan itu dinilai semakin kurang efektif dalam menghadapi meningkatnya volume sampah, keterbatasan kapasitas TPA, serta kebutuhan akan sistem pengelolaan yang lebih berkelanjutan.

Pemerintah kini mulai mengubah arah kebijakan dengan mendorong pemanfaatan sampah menjadi sumber energi sekaligus memiliki nilai ekonomi melalui program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Upaya tersebut diperkuat dengan diterbitkannya Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentang Penanganan Sampah Perkotaan melalui Pengolahan Sampah menjadi Energi Terbarukan Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan.

Transformasi ini dilakukan di tengah tantangan pengelolaan sampah yang semakin kompleks. Produksi sampah nasional tercatat mencapai sekitar 141.926 ton per hari, namun baru sekitar 26 persen yang berhasil dikelola dengan baik. Sementara itu, sebagian besar sisanya masih membutuhkan penguatan sistem pengelolaan, mulai dari pengurangan di tingkat sumber hingga proses pengolahan akhir.

Meningkatnya volume sampah juga memberikan tekanan besar terhadap daya tampung TPA di berbagai daerah. Di sisi lain, praktik pembuangan terbuka atau open dumping masih ditemukan dan berpotensi menimbulkan pencemaran tanah, air, serta udara, sekaligus menghasilkan emisi gas metana yang berdampak pada perubahan iklim.

Melihat kondisi tersebut, pemerintah menilai penambahan kapasitas TPA saja tidak lagi menjadi solusi jangka panjang. Pengelolaan sampah perlu diarahkan pada sistem yang mampu mengurangi jumlah residu sekaligus mengoptimalkan potensi sampah sebagai sumber energi dan nilai ekonomi, sehingga memberikan manfaat yang lebih besar bagi lingkungan maupun masyarakat.

preferred sources in Google Searc


Editor: Lulu

Komentar

Terkini