Rating Bank BJB Turun, Pemegang Saham Daerah Diminta Perketat Pengawasan

Rating Bank BJB Turun, Pemegang Saham Daerah Diminta Perketat Pengawasan

NYALANUSANTARA, Jakarta– Penurunan peringkat PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (Bank BJB/BJBR) dari idAA menjadi idAA- menjadi perhatian bukan hanya bagi manajemen dan investor, tetapi juga pemerintah daerah sebagai pemegang saham mayoritas.

Pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota di Jawa Barat serta Banten dinilai perlu memperkuat pengawasan terhadap perkembangan kualitas kredit Bank BJB, terutama di tengah tren peningkatan kredit bermasalah.

Berdasarkan publikasi PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) pada Minggu (13/9/2026), sebanyak 75,55 persen saham Bank BJB pada akhir Juni 2026 dimiliki pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dan pemerintah kota di Jawa Barat serta Banten. Sementara 24,45 persen saham lainnya dimiliki publik.

Komposisi tersebut membuat kinerja Bank BJB memiliki kaitan langsung dengan kepentingan ekonomi pemerintah daerah sebagai pemegang saham. Perubahan nilai perusahaan, laba, maupun dividen berpotensi berdampak terhadap manfaat ekonomi yang diterima daerah.

PEFINDO menurunkan peringkat Bank BJB dari idAA menjadi idAA-. Penurunan juga terjadi pada sejumlah instrumen utang yang diterbitkan perseroan.

“Penurunan peringkat mencerminkan tekanan yang berkelanjutan terhadap profil keuangan Bank, terutama kualitas aset,” tulis PEFINDO dalam rilis pemeringkatannya.

Meski demikian, peringkat Bank BJB masih berada dalam kategori sangat kuat dengan prospek stabil. PEFINDO juga menilai posisi bisnis, permodalan, dan likuiditas perseroan sangat kuat.

Namun, perkembangan kualitas kredit menjadi salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian lebih serius.

Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) Bank BJB meningkat dari 2,2 persen pada akhir 2024 menjadi 2,8 persen pada akhir 2025. Pada Juni 2026, NPL kembali meningkat menjadi 3,3 persen.

Kenaikan juga terjadi pada kredit dalam perhatian khusus atau special mention loans. Rasio tersebut naik dari 2,7 persen pada akhir 2024 menjadi 3,8 persen pada akhir 2025 dan 4,3 persen pada Juni 2026.

preferred sources in Google Searc


Editor: Redaksi

Terkait

Komentar

Terkini