Puluhan Petani di Semarang Ikuti Sekolah Lapang Iklim untuk Cegah Gagal Panen
ISTIMEWA
NYALANUSANTARA, SEMARANG- Puluhan petani dari sejumlah gabungan kelompok tani (gapoktan) di Desa Banyubiru, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, mengikuti program Sekolah Lapang Iklim (SLI) Tematik pada Selasa. Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan petani dalam memahami kondisi cuaca dan mengantisipasi risiko gagal panen.
Program ini diselenggarakan Stasiun Klimatologi Jawa Tengah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Komisi V DPR RI serta Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan (Dispertanikap) Kabupaten Semarang.
Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Goeroeh Tjiptanto, mengatakan BMKG terus berupaya memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah perubahan iklim yang semakin memengaruhi sektor pertanian.
Melalui SLI Tematik, para petani mendapatkan edukasi mengenai literasi iklim agar mampu memahami informasi cuaca, menentukan waktu tanam, serta mengurangi risiko gagal panen akibat anomali iklim.
Goeroeh menjelaskan bahwa program Sekolah Lapang Iklim merupakan sarana edukasi untuk menghubungkan kebutuhan petani dengan pendampingan teknis dari dinas pertanian. Program tersebut terbagi menjadi dua jenis, yakni SLI Tematik dan SLI Operasional.
SLI Tematik berfokus pada pemahaman dasar literasi iklim dan pemanfaatan aplikasi digital. Sementara itu, SLI Operasional memberikan pendampingan secara langsung dan intensif kepada petani, mulai dari perencanaan masa tanam, pemeliharaan tanaman, hingga panen.
Ia menambahkan, BMKG Jawa Tengah menargetkan pelaksanaan enam kegiatan SLI sepanjang 2026 untuk memperluas pemahaman petani mengenai informasi iklim dan penerapannya dalam kegiatan pertanian.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dispertanikap Kabupaten Semarang, Moh Edy Sukarno, mengatakan perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi menuntut sektor pertanian untuk terus beradaptasi.
Menurutnya, pola pertanian tradisional yang mengandalkan Pranata Mangsa atau kearifan lokal dalam memperkirakan musim kini tidak selalu akurat akibat perubahan kondisi iklim.
"Dulu petani kita mengandalkan Pranata Mangsa untuk memperkirakan iklim dan cuaca. Namun, kondisi zaman sudah berubah, sehingga kearifan lokal tersebut sering kali sudah tidak akurat," ujar Edy.
Editor: Lulu
Terkini
NYALANUSANTARA, Ungaran- Kabupaten Banyumas berhasil meraih juara umum…
Semarang — Sebanyak 1.000 peserta mengikuti DOSS Photolympic…
NYALANUSANTARA, SEMARANG- Maxim resmi menghadirkan layanan BikeXL di Semarang…
NYALANUSANTARA, KLATEN- Maxim menyalurkan santunan penggantian biaya pengobatan sebesar…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- UniPin, platform penyedia layanan produk digital, resmi…
Semarang — Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng memperkuat…
Semarang — Lebih dari 3.000 peserta mengikuti Semarang…
NYALANUSANTARA, SURABAYA- Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)…
NYALANNUSANTARA, YOGYAKARTA- Festival Pesta Boneka 2026 yang diinisiasi Papermoon…
NYALANUSANTARA, Kendal – Kabupaten Kendal memiliki potensi untuk…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Serangan yang menyasar Bandara Internasional Raja Khalid…

Komentar