Tempuh Pendidikan S1 Psikologi di SCU pada 1989, XTine Kini jadi Guru Besar
NYALANUSANTARA, Semarang - Unika Soegijapranata (Soegijapranata Catholic University/ SCU) melantik satu guru besar. Ia adalah Prof Dr Christin Wibowo SPsi MSi Psikolog.
Bagi Unika Soegijapranata, guru besar yang akrab disapa Bu Xtine merupakan "orang lama" bagi kampus Ungu. Sebab, Xtine menempuh pendidikan S1 di Unika Soegijapranata.
Berdasar data yang diperoleh, Xtine menempuh pendidikan S1 Psikologi di Unika Soegijapranata pada 1989 hingga 1994. Ia kemudian lanjut S2 Psikologi di UGM pada 1999 hingga 2001. Memasuki 2015, ia kembali ke UGM untuk menempuh program Doktor Psikologi hingga 2019.
Ia menyelesaikan program doktor dengan judul penelitian "Dari Kepribadian Ambang Menuju Kepribadian yang Berkembang: Sebuah Transformasi Ilmiah dan Kemanusiaan”. Ia pun telah dikukuhkan menjadi guru besar Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata pada Rabu (1/10).
"Banyak perilaku masyarakat yang menggambarkan kegalauan atau kekacauan dalam kehidupan. Perilaku galau tersebut antara lain perilaku penggunaan narkoba, kawin-cerai, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan perilaku menyakiti diri sendiri/mengakhiri hidupnya. Kita sebaiknya tidak mengabaikan perilaku-perilaku tersebut karena perilaku itu bisa saja merupakan tanda-tanda adanya gangguan kepribadian ambang (Kembang) atau borderline personality disorder (BPD)," kata Xtine.
Individu dengan Kembang memiliki ciri antara lain, pola hubungan interpersonalnya tidak stabil, adanya keinginan melukai dirinya sendiri, ketidakstabilan suasana hati, perasaan hampa yang kronis,dan kemarahan yang tidak pada tempatnya. Untuk memahami Kembang ini, maka digunakan metafora kembang juga.
"Kembang pasti membutuhkan tanah, akar, batang yang sehat, hujan, sinar matahari dan angin yang cukup untuk dapat berkembang dengan segar. Akar merupakan kerentanan biologis dan kepribadian yang dibawa sejak individu lahir. Walau merupakan bawaan, namun jika tanahnnya subur, individu dengan Kembang tetap dapat sehat. Pengasuhan yang tepat dapat diibaratkan seperti menyediakan tanah yang subur. Untuk mempekuat batang, maka individu dengan Kembang harus memiliki self-compassion, mindfulness, wise mind dan belajar berkomunikasi asertif. Kembang juga diharapkan memberdayakan dukungan sosial (yang seperti hujan dan sinar matahari) serta menikmati angin (belajar proactive coping). Aplikasi Sovilau (sobat virtual anti galau) dapat untuk membantu Kembang menemukan solusi saat menghadapi masalah. Selain itu budaya bangsa Indonesia, seperti Kisah Ramayana, dapat dipelajari sehingga Kembang semakin dapat berkembang. Dari beberapa kelemahannya, orang dengan Kembang memiliki kelebihan. Dengan kepribadiannya yang sensitif dan takut ditinggalkan, ia menjadi individu yang memiliki empati dan pemahaman yang baik tentang perasaan orang lain. Kemampuan berempati yang baik ini, tentu berguna baik bagi dirinya sendiri, orang-orang di sekitarnya maupun bagi Bangsa Indonesia," ujarnya.
Editor: Holy
Terkini
Ulasan Film Mana Shankara Vara Prasad Garu: Aksi-Komedi Menghibur dengan Kekuatan Akting Chiranjeevi
Mana Shankara Vara Prasad Garu merupakan film aksi-komedi…
NYALANUSANTARA, Semarang - Polda Jateng menegaskan komitmennya dalam…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Pemerintah memberikan keringanan berupa diskon 50 persen…
NYALANUSANTARA, Semarang - Suasana hangat dan penuh sukacita…
NYALANUSANTARA, LAMPUNG- Pemerintah menegaskan komitmennya untuk melanjutkan Program Paket…
NYALANUSANTARA, Semarang – Kanwil Kemenkum Jateng menegaskan komitmennya…
NYALANUSANTARA, JAKARTA-Pelatih anyar timnas Indonesia, John Herdman, menegaskan…
NYALANUSANTARA, Pati – Kabar bahagia menyelimuti para nasabah…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Sebuah boneka berbentuk kuda yang mengalami kesalahan…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Pemerintah Republik Indonesia (RI) bersiap untuk menerapkan…
NYALANUSANTARA, Surabaya- Pelatih Persebaya Surabaya Bernardo Tavares menilai…
Komentar