Asian-African Students Conference 2025 di Undip: Angkat Isu Permasalahan Iklim Global

Asian-African Students Conference 2025 di Undip: Angkat Isu Permasalahan Iklim Global

Forum ini, menurut Prof. Hadiyanto merupakan jembatan antara ilmu pengetahuan dan solidaritas yang menyatukan pemikiran dari berbagai bangsa. Konferensi ini juga wujud nyata dari tagline “UNDIP Bermartabat dan Bermanfaat” dan langkah UNDIP menuju World-Class University.

Pulung Widhi Hari Hananto, S.H., M.H., LL.M. selaku Project Manager dari Asian-African Student’ Conference 2025 mengatakan bahwa melalui diskusi forum ini mahasiswa dapat mengasah kemampuan leadership, menyerukan ide inovasi serta menemukan solusi atas permasalahan global, yang meliputi topik krisis kemanusiaan, ekonomi biru (blue economy), keamanan pangan (food security) serta Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals).

“Di sini adalah wadah agar kita semua mampu belajar. Hal ini akan membentuk spektrum baru dari semangat generasi muda untuk meningkatkan kualitas kehidupan. Mengutip kalimat dari Pangeran Diponegoro, “Takdir adalah kepastian, tapi hidup harus tetap berjalan,” saat ini banyak permasalahan terkait iklim dan ekosistem, namun bersama-sama kita pecahkan masalah dan temukan solusinya,” pungkasnya.

Prof. Dr. Eddy Pratomo yang bergabung melalui Zoom meeting menyampaikan materi berjudul “Diplomatic Issues and Maritime: Sea Level Rise – An Asia-Africa Perspective.” Kondisi air laut terus meningkat (sea level crisis) sehingga menimbulkan permasalahan ketahanan pangan, sumber daya perikanan, dan juga batas garis pantai. “Negara di Asia dan Afrika memiliki permasalahan dan risiko yang sama. Melalui konferensi ini kita bisa menguatkan diplomasi legal pada forum PBB, kolaborasi ekonomi biru, dan menjaga sumber daya di wilayah Samudera Hindia,” kata Prof. Eddy.

Selanjutnya, Gridhanya Mega bicara tentang “Rethinking Law in the Age of the Anthropocene.” Sebuah krisis planet Bumi, Anthropocene (diperkenalkan oleh ahli ekologi Eugene F. Stoermer, 1980an, dan dipopulerkan oleh ahli kimia Paul Crutzen, 2000an); di mana umat manusia telah menjadi kekuatan dominan dalam perubahan iklim dan ekosistem Bumi, dan termasuk dalam komposisi kimia atmosfer dan lautan. Campur tangan manusia menjadi ancaman bagi keberlangsungan planet Bumi, di antaranya menyebabkan perubahan cuaca, kerusakan keanekaragaman hayati, degradasi laut, polusi, dan perubahan fungsi tanah.

Fenomena Anthropocene juga mempengaruhi keamanan umat manusia, ketika dinamika di Bumi tidak stabil maka akan menimbulkan permasalahan kesehatan, kekurangan pangan, konflik kekerasan, ketidakamanan ekonomi, dan ketimpangan sosial.

“Perubahan sistem dan hukum secara transformatif, khususnya pada Law in the Anthropocene, perlu dilakukan dengan menyeimbangkan hubungan antara alam dan manusia. Planet Bumi memiliki banyak kekayaan alam, namun memiliki batas sehingga konservasi ekologi perlu dilakukan, contohnya dengan mengadopsi budaya masyarakat suku asli Indonesia: menjaga hutan sakral, menciptakan sistem buka tutup pada tempat penangkapan ikan, menghidupkan legenda bahwa laut dan hutan adalah bagian dari mother nature,” katanya.


Editor: Holy

Komentar

Terkini