Ide Kritis Soal Relasi Ulama dan Negara, Tim Sejarah UNAIR Raih Juara 3 Lomba Esai Nasional

Ide Kritis Soal Relasi Ulama dan Negara, Tim Sejarah UNAIR Raih Juara 3 Lomba Esai Nasional

NYALANUSANTARA, SURABAYA- Tiga mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (UNAIR), kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Mereka adalah Muchammad Alfin Nasikh, Muhammad Hafid Alqowy, dan Deo Ramdani Chaeruddin, yang berhasil meraih Juara 3 dalam ajang Islamic Strategic Conference (ISC) 2025. Kompetisi ini diselenggarakan oleh Departemen Kajian dan Strategi (Kastrat) UKM Kerohanian Islam UNAIR.

Ketiga mahasiswa tersebut sudah lama tergabung dalam satu tim dan kerap mengikuti perlombaan bersama karena memiliki minat yang sama di bidang sejarah. “Kami satu tongkrongan dan sudah sering ikut lomba bareng. Jadi, sudah paham ritme kerja satu sama lain,” ungkap Alfin, selaku ketua tim.

Dalam lomba bertema “Ghazwul Fikri: Responding to 21st Century Ideological Challenges through Islamic Thought Strategies”, tim ini mengangkat esai berjudul “Agama yang Terkooptasi: Tinjauan Historis Relasi Ulama–Negara dalam Lanskap Sosial-Politik Indonesia.” Tulisan tersebut mengulas dinamika keterlibatan ulama dalam kekuasaan politik di Indonesia yang kadang justru menjauhkan masyarakat muslim dari isu sosial-politik.

“Kami mencoba membandingkan dengan masa keemasan Islam, di mana para ulama dan ilmuwan besar tetap independen meski berada di bawah tekanan penguasa,” jelas Alfin.

Proses penyusunan esai ini tidak mudah. Mereka hanya memiliki waktu lima hari sebelum batas pengumpulan, namun tetap mampu menyelesaikan tulisan berkualitas dan lolos hingga tahap final tiga besar. Presentasi final digelar di Gedung Kuliah Bersama (GKB) UNAIR, di mana mereka berhasil mempertahankan argumen meski waktu presentasi hanya sepuluh menit.

“Lucunya, saya sampai bolos kuliah demi fokus menulis,” kenang Alfin sambil tertawa. Namun, pengalaman tersebut justru menumbuhkan kedisiplinan dan tanggung jawab dalam mengatur waktu antara kuliah dan pengembangan diri.

Bagi Alfin, kemenangan ini bukan semata-mata hasil kerja keras singkat, tetapi buah dari kebiasaan panjang dalam membaca dan berpikir kritis. “Saya biasakan membaca minimal 20 halaman buku nonfiksi setiap hari. Dari situ ide dan referensi selalu siap,” ujarnya.


Editor: Lulu

Terkait

Komentar

Terkini