Melawan Lupa, Merawat Film: Estafet Warisan Sinematek Indonesia
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Di balik setiap bingkai film Indonesia, tersimpan denyut sejarah, identitas, dan semangat zaman. Film bukan sekadar hiburan — ia adalah dokumen hidup yang merekam perjalanan bangsa, kebudayaan, serta dinamika sosial yang membentuk siapa kita hari ini. Namun sebagaimana ingatan manusia yang bisa pudar, film pun dapat hilang bila tak dirawat. Di sinilah Sinematek Indonesia berdiri — bukan sekadar lembaga arsip, melainkan penjaga ingatan kolektif bangsa, benteng terakhir yang memastikan kisah sinema Indonesia tidak tenggelam dalam pelupaan.
Lahirnya Sinematek Indonesia: Rumah Ingatan Bangsa
Sinematek Indonesia resmi berdiri pada 20 Oktober 1975 atas gagasan Misbach Yusa Biran, seorang sutradara, penulis, dan sejarawan film Indonesia. Bersama tokoh perfilman seperti Asrul Sani, Misbach meyakini bahwa film bukan hanya produk komersial, tetapi warisan budaya yang harus dijaga. Ia menyadari banyak film lama yang rusak karena tidak adanya lembaga penyimpanan yang memadai. Maka lahirlah Sinematek Indonesia — pusat arsip dan dokumentasi perfilman pertama di Asia Tenggara yang mengemban misi kebudayaan: menyelamatkan, merawat, dan mendokumentasikan film Indonesia dari generasi ke generasi.
Harta Warisan Sinema
Kini, Sinematek Indonesia menyimpan lebih dari 2.000 gulungan film seluloid, ribuan naskah skenario, dokumen produksi, foto adegan, hingga puluhan ribu poster film klasik. Koleksi majalah, buku, dan kliping perfilman pun tersimpan rapi, merekam jejak panjang industri film nasional. Setiap arsip bukan hanya benda mati, melainkan potongan memori tentang cara bangsa ini memandang dirinya sendiri melalui layar lebar.
Program Digitalisasi Arsip
Dalam beberapa tahun terakhir, Sinematek bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah melakukan digitalisasi 29 film klasik Indonesia, seperti Darah dan Doa (1950), Lewat Djam Malam (1954), Atheis (1974), dan Naga Bonar (1987). Langkah ini tidak hanya menjaga fisik film dari kerusakan, tetapi juga membuka akses generasi muda untuk kembali mengenal sejarah sinema nasional.
Estafet Warisan: Dari Misbach ke Farry Hanief
Kini, estafet perjuangan dilanjutkan oleh Farry Hanief Yusa Biran, putra Misbach, yang memimpin Sinematek periode 2025–2029. Ia membawa visi baru: menjadikan Sinematek sebagai pusat pembelajaran, riset, dan inspirasi bagi generasi pembuat film berikutnya, sekaligus memperkuat sinergi dengan komunitas dan teknologi digital.
Merawat Arsip, Menjaga Arah Bangsa
Editor: Lulu
Terkait
NYALANUSANTARA, Jakarta- Sutradara Dirty Votes Dhandy Laksono mengaku…
NYALANUSANTARA, Surabaya- Belakangan ini, film-film bergenre horor dan…
Terkini
NYALANUSANTARA, Jakarta- Pasar roti dan kue di Indonesia…
NYALANUSANTARA, Jakarta- Setelah menjalani rutinitas sepanjang pekan, akhir…
NYALANUSANTARA, Jakarta- ZTE Corporation (0763.HK / 000063.SZ), penyedia…
NYALANUSANTARA, Semarang— Rasa pegal yang dirasakan Rosyid setelah…
Semarang - Kanwil Kemenkum Jateng bersama Badan Riset…
Film fiksi ilmiah Alpha Gang menawarkan premis yang…
NYALANUSANTARA, Jakarta— Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan…
NYALANUSANTARA, Semarang— Tidak ada lantunan ayat yang terdengar…
MTQ Nasional XXXI di Semarang Catat Sejarah, Penyandang Tuli Ikuti Eksibisi Tartil Al-Qur’an Isyarat
NYALANUSANTARA, Semarang— Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI…
NYALANUSANTARA, Jakarta— Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyatakan…
Semarang – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, mengajak…

Komentar