Refleksi Hari Buruh: Pakar Universitas Airlangga Soroti Kerentanan Pekerja dan Sarjana

Refleksi Hari Buruh: Pakar Universitas Airlangga Soroti Kerentanan Pekerja dan Sarjana

NYALANUSANTARA, SURABAYA- Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 menjadi momentum refleksi atas semakin rentannya posisi pekerja di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil. Pakar Sosiologi dari Universitas Airlangga, Bagong Suyanto, menilai masih banyak perusahaan yang memandang buruh hanya sebagai beban, bukan sebagai penggerak utama ekonomi.

Ia menyoroti fenomena gig economy, seperti pengemudi ojek online, yang kerap disebut sebagai “mitra”. Menurutnya, istilah tersebut sering kali hanya menjadi ilusi untuk menutupi relasi kerja yang timpang dan berpotensi eksploitatif. Para pekerja tetap harus menanggung risiko pekerjaan sendiri tanpa perlindungan memadai.

Tak hanya itu, sistem kerja kontrak atau outsourcing juga dinilai memperlemah posisi tawar buruh. Dalam praktiknya, perusahaan dapat menghindari berbagai kewajiban terhadap pekerja, sehingga menciptakan ketidakpastian kerja yang berkepanjangan.

Masalah ini diperparah dengan ketidaksesuaian antara ketersediaan lapangan kerja dan profil tenaga kerja di Indonesia. Banyak industri saat ini bersifat padat modal, sementara tenaga kerja yang tersedia lebih cocok untuk sektor padat karya. Akibatnya, pengangguran, termasuk dari kalangan sarjana, terus meningkat.

Sebagai solusi, Bagong Suyanto mendorong pemerintah untuk mengubah orientasi industri ke arah padat karya agar mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja. Tanpa langkah tersebut, persoalan pengangguran dinilai akan terus menjadi tantangan besar ke depan.


Editor: Lulu

Komentar

Terkini