Dosen UNAIR Soroti Dampak Geopolitik Usai UEA Keluar dari OPEC
NYALANUSANTARA, SURABAYA- Keputusan Uni Emirat Arab keluar dari Organization of the Petroleum Exporting Countries menjadi sorotan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Langkah tersebut dinilai dapat memengaruhi stabilitas energi global, terutama saat konflik regional dan penutupan Selat Hormuz masih menekan pasar minyak dunia.
Dosen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga, Fadhila Inas Pratiwi, menjelaskan bahwa keputusan UEA keluar dari OPEC berkaitan erat dengan kepentingan nasional negara tersebut, khususnya dalam sektor energi dan ekonomi.
Menurutnya, UEA ingin memiliki keleluasaan lebih besar dalam menentukan kebijakan produksi energi tanpa harus terikat kuota dan regulasi organisasi. Ia menyebut OPEC awalnya dibentuk sebagai wadah kerja sama negara produsen minyak untuk menghadapi dominasi negara-negara Barat dalam pasar energi global.
Namun, dinamika geopolitik Timur Tengah yang semakin kompleks membuat sejumlah negara mulai meninjau kembali efektivitas organisasi tersebut. “Dalam kasus UEA, kepentingan ekonomi domestik dan strategi energi nasional dianggap lebih penting dibanding mempertahankan solidaritas organisasi,” ujarnya.
Fadhila menilai keluarnya UEA berpotensi memengaruhi kekuatan internal OPEC. Sebagai salah satu produsen minyak utama, UEA memiliki kapasitas produksi besar yang dapat memengaruhi keseimbangan pasokan minyak dunia.
Saat ini, UEA diketahui mampu memproduksi sekitar 4,85 juta barel minyak per hari dan menargetkan peningkatan kapasitas hingga 5 juta barel per hari pada 2027. Dengan tidak lagi terikat kuota produksi OPEC, negara tersebut memiliki peluang meningkatkan produksi sesuai kepentingan nasionalnya.
“Tambahan produksi itu dapat memberi tekanan terhadap harga minyak dunia dalam jangka menengah,” jelasnya.
Lebih lanjut, Fadhila menyebut dampak keputusan tersebut juga dapat dirasakan negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia. Fluktuasi harga energi global dinilai berpotensi meningkatkan biaya impor energi dan memicu tekanan inflasi nasional.
Ia menekankan pentingnya penguatan ketahanan energi nasional melalui diversifikasi sumber energi dan pengurangan ketergantungan terhadap impor minyak. Menurutnya, langkah tersebut diperlukan agar stabilitas ekonomi Indonesia tetap terjaga di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Editor: Lulu
Terkini
Semarang – Universitas Diponegoro (UNDIP) kembali menorehkan prestasi…
Semarang – Prestasi kembali ditorehkan oleh sivitas akademika…
NYALANUSANTARA, Semarang – Gelandang anyar PSIS Semarang, Syahrian…
Pemkot Semarang-Masyarakat Rawat Harmoni dalam Perayaan Kedatangan Kimsin YS Poo Seng Tay Tee ke-166
NYALANUSANTARA, Semarang - Pemerintah Kota atau Pemkot Semarang…
NYALANUSANTARA, Semarang – Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng,…
NYALANUSANTARA, Semarang - Perkembangan E-Sport dalam beberapa tahun…
NYALANUSANTARA, Semarang - PSIS Semarang resmi memperpanjang kontrak…
NYALANUSANTARA, Jakarta – Pebalap muda binaan PT Astra…
NYALANUSANTARA, Semarang - PSIS Semarang kembali menambah amunisi…
NYALANUSANTARA, Semarang – Bandara Internasiobal Jenderal Ahmad Yani…
NYALANUSANTARA, Semarang – PT KAI Daop 4 Semarang…
Komentar