Psikolog UNAIR Soroti Krisis Kesehatan Mental Remaja dan Pentingnya Well Being di Sekolah

Psikolog UNAIR Soroti Krisis Kesehatan Mental Remaja dan Pentingnya Well Being di Sekolah

NYALANUSANTARA, SUARABAYA- Masalah kesehatan mental remaja kini dinilai menjadi isu serius yang membutuhkan perhatian seluruh elemen pendidikan. Tingginya stigma, keterbatasan akses layanan psikologis, hingga maraknya kasus perundungan membuat kondisi kesehatan mental remaja di kawasan Asia Tenggara semakin mengkhawatirkan.

Menanggapi kondisi tersebut, dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Dr Wiwin Hendriani, menegaskan bahwa kesejahteraan mental atau well being di lingkungan sekolah tidak lagi bisa dianggap sebagai isu tambahan dalam pendidikan.

Ketua Program Studi Magister Psikologi UNAIR itu mengungkapkan bahwa satu dari tujuh remaja di dunia mengalami gangguan mental. Sementara itu, kawasan Asia Pasifik menampung sekitar 60 persen populasi remaja global, sehingga tantangan kesehatan mental di wilayah ini menjadi semakin kompleks.

Ia juga menyoroti fakta bahwa bunuh diri kini termasuk salah satu penyebab utama kematian remaja di tingkat global. Menurutnya, rendahnya perilaku mencari bantuan atau help-seeking behavior masih menjadi persoalan besar akibat kuatnya stigma terhadap kesehatan mental.

Dalam paparannya, Dr. Wiwin menilai banyak program kesejahteraan di sekolah gagal karena hanya diposisikan sebagai program tambahan atau add-on yang bersifat sementara. Program tersebut sering kali bergantung pada individu tertentu tanpa benar-benar menjadi bagian dari budaya dan sistem sekolah.

Menurutnya, sekolah perlu mengubah pendekatan dari sekadar intervensi sesaat menjadi pembangunan ekosistem kesejahteraan yang terintegrasi di semua level, mulai dari ruang kelas hingga kebijakan sekolah secara menyeluruh.

Ia menekankan bahwa keberhasilan program kesehatan mental hanya dapat tercapai jika sekolah menerapkan sistem yang terukur, adaptif, serta sesuai dengan konteks dan kebutuhan lingkungan masing-masing.

Selain itu, sinergi antara kualitas program, konsistensi pelaksanaan, dan etika pendidikan dinilai menjadi faktor penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat secara mental bagi siswa.

Melalui pendekatan tersebut, sekolah diharapkan tidak hanya fokus pada prestasi akademik, tetapi juga mampu menjadi ruang yang aman, suportif, dan mendukung perkembangan psikologis remaja secara utuh.


Editor: Lulu

Komentar

Terkini