Kisah Kurnia Ramadhani Hidupkan Esensi Kesehatan Publik yang Membawanya ke Eropa
NYALANUSANTARA, Surabaya- Ruang pengabdian sejati seorang sarjana kesehatan masyarakat diuji dari seberapa besar dampaknya bagi komunitas lokal. Prinsip inilah yang dipegang teguh oleh Kurnia Ramadhani, alumnus peminatan Administrasi dan Kebijakan Kesehatan (AKK) Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) angkatan 2005.
Ia berhasil membuktikan bahwa dedikasi tulus di tingkat puskesmas mampu mengantarkannya hingga ke panggung akademik benua Eropa.
Kurnia mengawali kariernya sebagai penyuluh di RSUD Waluyo Jati (2010) sebelum menempuh S2 Promosi Kesehatan. Pengalaman kepemimpinannya kian matang lewat pelatihan internasional di Belanda dan Kanada, hingga menahkodai Puskesmas Tongas selama dua periode hingga 2025.
Salah satu langkah strategisnya saat memimpin puskesmas adalah menggerakkan pedagang sayur keliling (wlijo) sebagai agen edukasi stunting organik. Pendekatan kultural yang dekat dengan keseharian para ibu ini berhasil memangkas kasus stunting di wilayah Tongas dari 627 anak pada 2019 hingga menjadi 80 anak di tahun 2022.
“Penyuluhan tidak melulu harus kaku di forum formal. Lewat obrolan santai saat belanja sayur pagi, pesan gizi justru lebih cepat meresap ke perilaku keluarga,” tutur Kurnia, Selasa 30 Juni 2026.
Lebih lanjut, kepeduliannya pada keselamatan ibu melalui program Mbakyu Sahabat Bumil (Pregna Sister) untuk menjaga zero Angka Kematian Ibu (AKI). Sukses besar di tingkat lokal serta mendapat dukungan global dari Samya Stumo Fellowship, inovasi berbasis kader ini membawanya terbang untuk presentasi di Women’s Health Conference di National University of Singapore pada 2024.
“Inovasi terbaik tidak membutuhkan teknologi rumit yang mahal. Melainkan cara baru dalam memanusiakan manusia agar saling menjaga keselamatan sesama,” tambahnya.
Pascapandemi, ia memodernisasi layanan lewat WhatsApp Chatbot stunting dan menginisiasi gerakan Sister Gadis Sehat untuk memutus rantai anemia remaja.
“Puskesmas harus bertransformasi menjadi pusat gerakan sosial dari hulu ke hilir. Bagi kami, remaja putri yang sehat hari ini adalah calon ibu dan penggerak masyarakat di masa depan. Sehingga lewat gerakan ini mereka diberi ruang untuk memahami tubuhnya dan menjadi agen perubahan di komunitasnya,” urai Kurnia.
Aksi Global di Groningen
Modal portofolio lapangan yang panjang dan berdampak luas tersebut akhirnya mengantarkan Kurnia lolos beasiswa S3 LPDP dalam satu kali percobaan. Saat ini, ia tengah menempuh studi PhD di University Medical Center Groningen, Belanda, dengan riset yang didukung oleh Aletta Health Grant untuk fokus pada pencegahan anemia remaja Indonesia.
Editor: Redaksi
Terkait
NYALANUSATARA, SURABAYA- Inovasi berbasis kekayaan hayati Indonesia kembali lahir…
Terkini
NYALANUSANTARA, Jakarta- Momami, brand perawatan anak asal Indonesia,…
NYALANUSANTARA, Jakarta– Jakarta tak hanya ingin dikenal sebagai…
NYALANUSANTARA, Ungaran -- Seorang perempuan mantan marketing sebuah…
NYALANUSANTARA, Semarang - Lapas Kelas I Semarang melaksanakan…
NYALANUSANTARA, Yogyakarta – Telkomsel melalui by.U kembali menghadirkan…
NYALANUSANTARA, Keerom – Menghadapi keterbatasan irigasi dan kondisi…
NYALANUSANTARA, Semarang — Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng…
NYALANUSANTARA, Semarang - Komisi III DPR RI mengapresiasi…
NYALANUSANTARA, Semarang - Dinas Perhubungan atau Dishub Kota…
NYALANUSANTARA, Semarang — Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng…
NYALANUSANTARA, Jepara – Universitas Diponegoro (UNDIP) terus memperkuat…

Komentar