Dari Tumpukan Sampah Asrama, Kampus Buddha di Wonogiri Ini Ciptakan "Sumur Minyak" dari Plastik
NYALANUSANTARA, Wonogiri– Siapa sangka, plastik bekas gelas air mineral dan botol infus yang biasa berakhir di tempat sampah kini bisa disulap menjadi bahan bakar setara pertamax. Itulah yang dilakukan Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Raden Wijaya Wonogiri lewat Laboratorium Ekologi yang baru saja diresmikan di Desa Bulusulur. Peresmian dilakukan langsung oleh Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno, belum lama ini.
Cerita di balik laboratorium ini bermula dari keresahan sederhana. Ketua STABN Raden Wijaya Wonogiri, Sulaiman, mengaku gelisah setiap kali melihat tumpukan sampah menggunung di area Asrama Mahasiswa Buddha.
"Banyak sampah menumpuk di asrama. Dari keresahan itu kami berpikir bahwa sampah tidak boleh hanya menjadi masalah, tetapi harus menjadi solusi yang bermanfaat bagi masyarakat," ujarnya.
Dari keresahan itulah lahir sebuah gagasan besar. Sulaiman menggandeng Yayasan Get Plastic untuk menggelar pelatihan pengolahan sampah plastik dengan teknologi pirolisis selama tujuh hari, pada 24-30 Juni 2026, di Eco-Theology Living Laboratory Dharma Ekologi.
Melalui teknologi ini, plastik yang dulunya dianggap sampah tak bernilai kini "disulap" menjadi komoditas energi alternatif, tanpa melalui proses pembakaran terbuka yang mencemari udara.
Pelatih dari Yayasan Get Plastic, Ine, membeberkan rahasia di balik proses ini: kualitas bahan baku adalah kuncinya. Plastik yang diolah wajib dalam kondisi bersih dan kering.
"Mesin pirolisis yang dimiliki STAB Negeri Raden Wijaya saat ini mampu mengolah sekitar lima kilogram sampah plastik dalam satu kali proses. Dengan waktu pengolahan sekitar tiga jam, mesin dapat menghasilkan kurang lebih lima liter BBM," jelasnya.
Tak semua plastik diciptakan setara di mata mesin pirolisis ini. Get Plastic merekomendasikan empat jenis plastik andalan: HDPE, LDPE, Polypropylene (PP), dan Polystyrene (PS). Dari keempatnya, plastik PP -- seperti gelas air mineral dan botol infus yang setiap hari kita jumpai -- justru menghasilkan bahan bakar dengan kualitas terbaik.
Sebaliknya, plastik PET dan PVC masuk daftar terlarang lantaran kandungan klorinnya bisa mengacaukan proses pirolisis, bahkan merusak mesin.
Hasilnya pun tak main-main: solar, minyak pet, pertamax, hingga gas cair sekelas LPG. Bahan bakar yang dihasilkan diklaim memiliki RON 92,3 -- unggul tipis dari RON Pertamax produksi Pertamina yang berada di angka 92. Bahkan kualitas solarnya telah lolos uji laboratorium dan terbukti aman untuk mesin diesel, traktor, hingga genset.
Uniknya, limbah sisa pengolahan bernama *black carbon* pun tak lantas dibuang percuma. Material ini masih bisa disulap menjadi media tanam, paving block, dan briket. Bila diolah lebih jauh dengan campuran resin, black carbon bahkan bisa "naik kelas" menjadi patung, piala, atau vandel cendera mata.
Bagi Sulaiman, laboratorium ini lebih dari sekadar mesin pengolah sampah. Ia berharap program ini menjadi Program Kredensial Mikro bagi mahasiswa, sekaligus sarana pemberdayaan masyarakat dalam mengelola sampah dari hulu, sampai membuka peluang ekonomi sirkular yang hasilnya bisa mendukung berbagai kegiatan sosial.
Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno, tak menyembunyikan apresiasinya atas terobosan ini. Ia menilai langkah konkret pengelolaan sampah berbasis pirolisis tersebut sebagai jawaban krusial atas tantangan pembangunan dan pelestarian lingkungan berkelanjutan.
"Kami mengapresiasi sinergi antara akademisi dan komunitas dalam menciptakan solusi nyata dari persoalan limbah domestik. Hal ini sekaligus sebagai upaya strategis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara luas melalui ekonomi sirkular," kata Setyo.
Ia berharap model pengelolaan sampah ini tak berhenti di Wonogiri, melainkan bisa direplikasi di berbagai sektor lain, sehingga kesadaran masyarakat memilah sampah dari sumbernya semakin tumbuh. Inovasi dari kampus Buddha ini pun diharapkan mampu memberi nilai tambah ekonomi sekaligus mendukung kemandirian energi dan kelestarian lingkungan di Wonogiri.
Editor: Redaksi
Terkait
NYALANUSANTARA, Wonogiri– Direktorat Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi…
Terkini
NYALANUSANTARA, Semarang— Ketua Tim Pembina Posyandu Provinsi Jawa…
NYALANUSANTARA, Semarang— Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan…
NYALANUSANTARA, Semarang – Fakultas Sains dan Matematika (FSM)…
NYALANUSANTARA, Semarang - Dinamika organisasi di lingkungan Polri…
NYALANUSANTARA, Semarang— Kebakaran melanda lahan kosong di Jalan…
NYALANUSANTARA, Semarang - PT Liga Utama Indonesia (PT…
NYALANUSANTARA, Semarang - Komisi Pemilihan Umum atau KPU…
NYALANUSANTARA, Semarang — Belasan anak usia sekolah dasar…
NYALANUSANTARA, Jakarta- Penurunan harga saham PT GoTo Gojek…
NYALANUSANTARA, Keerom – Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro…
NYALANUSANTARA, Semarang – PT KAI Daop 4 Semarang…

Komentar