Prof. Didik Rachbini: Disertasi Doktor Yusril Jadi Bukti Pentingnya Tradisi Intelektual dalam Politik
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, menilai ujian terbuka program doktor filsafat yang dijalani Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra menjadi pengingat akan pentingnya tradisi intelektual dalam dunia politik Indonesia.
Pada sidang yang digelar 2 Juli 2026, Yusril mempertahankan disertasinya berjudul Penafsiran Kembali Pemikiran Mohammad Natsir tentang Relasi Islam dengan Negara: Sebuah Telaah Filsafat dengan Pendekatan Hermeneutika Fenomenologis-Eksistensial. Menurut Prof. Didik, langkah Yusril kembali menempuh studi doktor filsafat, meski telah menjadi guru besar dan memiliki rekam jejak panjang di dunia politik, menunjukkan komitmen kuat terhadap pengembangan ilmu pengetahuan.
Prof. Didik menilai para pendiri bangsa merupakan negarawan yang juga memiliki kapasitas intelektual tinggi. Namun, ia melihat dinamika politik saat ini lebih banyak melahirkan figur yang mengandalkan popularitas dibandingkan kekuatan gagasan dan pemikiran.
Ia mengapresiasi semangat Yusril yang tetap aktif mengembangkan kapasitas akademiknya. Menurutnya, Yusril merupakan salah satu tokoh reformasi yang masih menjaga tradisi intelektual di tengah kiprah politiknya, sejajar dengan sejumlah tokoh seperti Susilo Bambang Yudhoyono, Agus Widjojo, dan Amien Rais.
Dalam disertasinya, Yusril mengangkat persoalan relasi agama dan negara yang dinilainya masih menjadi perdebatan di ruang akademik maupun kehidupan berbangsa. Melalui pendekatan filsafat dan hermeneutika, ia menafsirkan kembali pemikiran Mohammad Natsir sebagai respons terhadap dinamika sosial, politik, dan keagamaan yang terus berkembang.
Prof. Didik menjelaskan, hasil kajian tersebut menunjukkan bahwa konsep kenegaraan yang dikembangkan Mohammad Natsir bukanlah negara Islam dalam pengertian formal maupun negara sekuler. Natsir menawarkan konsep theistic democracy, yakni sistem demokrasi yang berlandaskan nilai-nilai etika keagamaan tanpa bertentangan dengan ajaran agama lain.
Menurut Prof. Didik, disertasi tersebut memperlihatkan bahwa Mohammad Natsir tidak hanya dikenal sebagai tokoh politik Islam, tetapi juga sebagai pemikir yang memiliki filsafat politik yang utuh. Sementara itu, Yusril dinilai berhasil menunjukkan bahwa seorang politisi tetap dapat berkontribusi melalui karya akademik yang relevan bagi perkembangan pemikiran politik dan ketatanegaraan Indonesia.
Editor: Lulu
Terkini
NYALANUSANTARA, Brebes – Sektor peternakan di Kabupaten Brebes,…
Pemprov Jateng Bangun Tanggul Laut Hibrida di Pesisir, Siapkan Kawasan Pantura Sambut Giant Sea Wall
NYALANUSANTARA, Semarang– Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng)…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Spekulasi mengenai musik Awarapan 2 akhirnya terjawab.…
NYALANUSANTARA, Wonosobo– Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten…
Film Spirit yang dibintangi Prabhas dan Triptii Dimri…
NYALANUSANTARA, Semarang– Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng)…
NYALANUSANTARA, Bantul– Upaya pencarian korban tenggelam di kawasan…
NYALANUSANTARA, Tegal– Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meresmikan…
NYALANUSANTARA, Semarang - Ketua Komisi B DPRD Kota…
NYALANUSANTARA. Semarang – Badan Narkotika Nasional Provinsi Jawa…
Santika Indonesia Hotels & Resorts Region Jawa Tengah–Daerah…

Komentar