Promosi Doktor di SCU, Alexander Aur Angkat Disertasi Konservasi Modern dan Tradisi Berburu Paus di Lembata NTT

Promosi Doktor di SCU, Alexander Aur Angkat Disertasi Konservasi Modern dan Tradisi Berburu Paus di Lembata NTT

NYALANUSANTARA, Semarang - Program Studi Doktor Ilmu Lingkungan (PDIL) Soegijapranata Catholic University (SCU) menggelar ujian terbuka promosi doktor bagi Alexander Aur, S.S., M.Hum., Jumat (10/7/2026). Dalam sidang tersebut, dosen Universitas Pelita Harapan (UPH) itu berhasil mempertahankan disertasinya yang mengangkat hubungan kosmologi masyarakat adat Lamalera dengan konservasi keanekaragaman hayati.

Alexander memaparkan hasil penelitiannya mengenai masyarakat adat Lamalera di Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur. Komunitas ini dikenal dunia sebagai salah satu masyarakat yang masih menjalankan tradisi penangkapan paus sperma secara turun-temurun.

Melalui disertasinya, Alexander menegaskan bahwa praktik penangkapan paus di Lamalera tidak semata-mata dipahami sebagai aktivitas eksploitasi satwa. Bagi masyarakat Lamalera, paus memiliki makna kosmologis yang merepresentasikan hubungan harmonis antara manusia, alam, leluhur, dan Tuhan. Hubungan tersebut diwujudkan melalui ritual adat, hukum adat, nilai moral, serta tata kelola sosial yang mengatur pemanfaatan sumber daya laut.

Alexander menjekaskan, nilai-nilai konservasi sesungguhnya telah hidup dalam sistem budaya masyarakat Lamalera jauh sebelum konsep konservasi modern berkembang. Penelitiannya menemukan adanya mekanisme pengendalian pemanfaatan sumber daya laut melalui penghormatan terhadap kehidupan, pembatasan sosial dalam pemanfaatan hasil laut, kepatuhan terhadap hukum adat, distribusi hasil tangkapan secara adil, serta tanggung jawab menjaga keseimbangan ekologi bagi generasi mendatang.

Berdasarkan temuan tersebut, Alexander menawarkan konsep Konservasi Integratif Berbasis Kosmologi Adat Lamalera. Model ini memadukan ilmu pengetahuan modern dengan pengetahuan ekologis tradisional, hukum negara dengan hukum adat, serta mengintegrasikan aspek ekologis, sosial, budaya, ekonomi, dan spiritual dalam pengelolaan konservasi.

Ia menilai keberhasilan konservasi tidak cukup hanya mengandalkan regulasi formal, data ilmiah, maupun teknologi, tetapi juga membutuhkan pengakuan terhadap nilai-nilai budaya dan pengetahuan lokal yang telah lama berkembang di masyarakat adat.

"Masa depan konservasi tidak hanya ditentukan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan kita membangun dialog yang setara antara sains modern dan pengetahuan tradisional masyarakat adat," kata Alexander.

Adapun, Alexander Aur lahir di Wailolong, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, pada 20 Januari 1973. Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana dan Magister di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta. Sejak 2014, Alexander mengajar filsafat di Universitas Pelita Harapan dan aktif sebagai anggota Komisi Pendidikan Keuskupan Agung Jakarta sejak 2017.

Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Lingkungan (FITL) SCU, Benediktus Danang Setianto, SH., LLM., MIL., Ph.D., menilai disertasi tersebut memberikan kontribusi penting bagi pengembangan ilmu lingkungan sekaligus menjawab perdebatan mengenai hubungan antara praktik adat dan konservasi.

Pria yang akrab disapa Beni menjelaskan bangkitnya pengakuan terhadap kearifan lokal telah mendorong berkembangnya kajian mengenai Pengetahuan Ekologis Tradisional. Namun di sisi lain, masih muncul anggapan bahwa praktik adat tertentu bertentangan dengan prinsip pelestarian lingkungan.

preferred sources in Google Searc


Editor: Holy

Komentar

Terkini