UGM Cetak Peluang Kerja bagi Penyandang Disabilitas Lewat Batik Adaptif di Banyuwangi

UGM Cetak Peluang Kerja bagi Penyandang Disabilitas Lewat Batik Adaptif di Banyuwangi

NYALANUSANTARA, Banyuwangi– Keterbatasan akses terhadap dunia kerja masih menjadi tantangan besar bagi penyandang disabilitas di Indonesia. Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) menggagas pelatihan membatik adaptif bagi penyandang disabilitas di Desa Tampo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi.

Program yang diikuti 25 siswa SLB Negeri Tamanagung itu tidak hanya memberikan pelatihan keterampilan membatik, tetapi juga melahirkan e-modul pendidikan batik yang dapat digunakan sebagai panduan bagi guru, pendamping disabilitas, hingga pelaku UMKM. Harapannya, keterampilan tersebut dapat menjadi bekal untuk membuka peluang usaha maupun memasuki dunia kerja.

Pelatihan digelar di Galeri Najiha Batik dengan mengusung teknik batik ciprat, sebuah metode yang dinilai lebih mudah diterapkan oleh penyandang disabilitas dibandingkan teknik membatik menggunakan canting. Melalui teknik tersebut, peserta bebas menuangkan kreativitas tanpa harus terpaku pada pola-pola batik konvensional.

Kepala SLB Negeri Tamanagung, Pipit Suparlin, menyebut program tersebut memberikan manfaat yang jauh melampaui sekadar pelatihan keterampilan.

Menurutnya, membatik menjadi media pembelajaran yang mampu membangun karakter, meningkatkan konsentrasi, menumbuhkan rasa percaya diri, hingga melatih kemandirian para siswa.

"Kami sangat mengapresiasi mahasiswa KKN UGM yang telah menghadirkan ruang belajar bagi siswa kami. Membatik bukan hanya keterampilan vokasional, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter yang sangat penting bagi mereka," ujar Pipit, belum lama ini.

Ia berharap kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah, pemerintah desa, dan masyarakat terus berlanjut agar pendidikan inklusif di Banyuwangi semakin berkembang dan mampu membuka lebih banyak kesempatan bagi penyandang disabilitas.

Salah satu peserta pelatihan, Niza Aulia Sari (18), siswi kelas XII SLB Negeri Tamanagung, mengaku antusias mengikuti kegiatan tersebut. Melalui bahasa isyarat yang diterjemahkan gurunya, Niza mengatakan telah menghasilkan empat lembar kain batik yang seluruhnya berhasil dipasarkan.

Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa penyandang disabilitas memiliki kemampuan untuk menghasilkan karya bernilai ekonomi apabila memperoleh pendampingan dan kesempatan yang tepat.

Mahasiswa KKN-PPM UGM, Febriano Agung Nugroho, menjelaskan bahwa Desa Tampo dipilih karena telah ditetapkan sebagai desa tematik batik di Kabupaten Banyuwangi. Potensi tersebut dinilai sangat strategis untuk dikembangkan menjadi pusat pelatihan batik inklusif.

"Kami ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda. Desa Tampo tidak hanya dikenal sebagai desa batik, tetapi juga menjadi pusat pelatihan membatik bagi penyandang disabilitas. Dengan begitu, mereka memiliki keterampilan yang bisa menjadi bekal ekonomi di masa depan," katanya.

Untuk mendukung keberlanjutan program, tim KKN UGM juga menyusun e-modul pendidikan batik yang dapat digunakan secara berkelanjutan oleh sekolah, UMKM, maupun pendamping disabilitas.

Modul tersebut dirancang agar proses pembelajaran tetap berjalan meski terjadi pergantian guru atau pendamping, sekaligus memudahkan penyandang disabilitas belajar secara mandiri dengan pendampingan yang lebih terarah.

Ketua PKK Desa Tampo sekaligus pemilik Galeri Najiha Batik, Umi Najihah Fikriyati, mengatakan teknik batik ciprat lahir dari evaluasi pelatihan sebelumnya. Berdasarkan pengalaman, sebagian penyandang disabilitas mengalami kesulitan saat menggunakan canting sehingga diperlukan metode yang lebih adaptif.

Ia menilai inovasi yang dibawa mahasiswa KKN UGM menjadi solusi yang tepat sekaligus memperluas kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk berkarya.

Saat ini Galeri Najiha Batik telah mempekerjakan empat penyandang disabilitas. Menurut Najihah, pemerintah desa bersama PKK berkomitmen agar program tersebut tidak berhenti pada pelatihan semata, tetapi berlanjut hingga tahap produksi dan pemasaran.

"Produk hasil karya teman-teman difabel akan kami bantu pasarkan melalui galeri. Harapan kami, mereka bisa memperoleh penghasilan sendiri, lebih mandiri, dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang di dunia kerja maupun wirausaha," ujarnya.

Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah, pemerintah desa, dan pelaku UMKM, Desa Tampo kini tidak hanya memperkuat identitasnya sebagai desa batik, tetapi juga mulai membangun ekosistem pemberdayaan penyandang disabilitas yang membuka jalan menuju kemandirian ekonomi.
 

preferred sources in Google Searc


Editor: Redaksi

Terkait

Komentar

Terkini