Penerima Beasiswa KIP-K UNDIP, Alza Buktikan, Raih Mimpi Bekerja di Bank Ternama Sebelum Diwisuda

Penerima Beasiswa KIP-K UNDIP, Alza Buktikan, Raih Mimpi Bekerja di Bank Ternama Sebelum Diwisuda

NYALANUSANTARA, Semarang – Tidak banyak yang dibawa Smile Alza Fauzi ketika meninggalkan kampung halamannya di Boyolali menuju Semarang. Hanya keberanian, ilmu yang telah ia kumpulkan sejak kecil, dan tekad untuk mengubah masa depan keluarganya.

Di balik toga yang dikenakannya pada Wisuda Universitas Diponegoro ke-183 tahap 5 (31 Juli 2026), tersimpan perjalanan panjang seorang anak yang hampir sepanjang hidup pendidikannya bertumpu pada beasiswa. Sejak duduk di bangku SD, SMP, SMA hingga akhirnya menempuh pendidikan tinggi di Universitas Diponegoro (UNDIP) melalui program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K), beasiswa menjadi penyambung langkahnya meraih cita-cita.

“Saya tidak perlu mengeluarkan banyak biaya sejak SD, SMP hingga SMA karena Alhamdulillah mendapatkan beasiswa dari sekolah. Itu sangat membantu orang tua saya dalam meringankan beban finansial,” kenangnya.

Alza, lulusan Program Studi Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UNDIP, merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai karyawan usaha pemotongan ayam, sedangkan sang ibu adalah ibu rumah tangga.

Namun keterbatasan ekonomi tidak pernah membatasi semangat belajarnya. Sejak sekolah dasar, Alza aktif mengikuti berbagai olimpiade, mulai dari Olimpiade Sains Nasional (OSN), olimpiade biologi hingga matematika. Prestasi akademik yang diraihnya membuat ia terus memperoleh beasiswa di setiap jenjang pendidikan.

Tidak hanya unggul di kelas, Alza juga aktif berorganisasi. Saat sekolah ia mengikuti OSIS, Palang Merah Indonesia dan Pramuka. Bekal itu membentuk keberaniannya ketika memasuki dunia perkuliahan. Selama kuliah di UNDIP semangat itu justru semakin berkembang. Ia bergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa, Society of Renewable Energy, aktif dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dengan penelitian mengenai alga, hingga mengikuti ajang Mas dan Mbak Universitas Diponegoro. Pada tahun 2024, Alza berhasil terpilih sebagai perwakilan Mas FPIK.

Meski seluruh biaya kuliah, UKT, hingga bantuan biaya hidup telah ditanggung melalui KIP-K, Alza memilih untuk tidak bergantung sepenuhnya pada bantuan tersebut. Memasuki semester lima, ia mulai bekerja sambilan di beberapa tempat. Bukan untuk gaya hidup. Melainkan agar bisa membayar kebutuhan kuliah yang belum sepenuhnya tercukupi, seperti biaya praktikum dan kebutuhan hidup lainnya.

Dari hasil bekerja sambilan itu, Alza berhasil membeli laptop yang menunjang perkuliahannya, bahkan sepeda motor yang memudahkan mobilitasnya.

“Saya nyambi kerja sambil tetap harus mempertahankan IPK agar beasiswa KIP-K tetap berjalan. Hasil bekerja saya gunakan untuk memenuhi kebutuhan kuliah yang belum sepenuhnya bisa dipenuhi, termasuk biaya praktikum. Dari hasil itu saya bisa membeli laptop dan sepeda motor,” ucapnya.

Perjalanan itu tidak selalu mudah. Di balik berbagai prestasi yang diraihnya, ada masa-masa ketika ia hampir menyerah.

preferred sources in Google Searc


Editor: Holy

Komentar

Terkini