Empat Inovasi Pendidikan Jateng Diluncurkan, Sadimin: Jangan Berakhir Jadi Sampah Digital

Empat Inovasi Pendidikan Jateng Diluncurkan, Sadimin: Jangan Berakhir Jadi Sampah Digital

NYALANUSANTARA, Semarang— Transformasi pendidikan di Jawa Tengah mendapat dorongan baru melalui peluncuran empat inovasi aksi perubahan kinerja organisasi. Inovasi tersebut diperkenalkan dalam Gebyar Pendidikan Jawa Tengah 2026 yang mengusung tema “Bersinergi, Berinovasi, Berdampak untuk Pendidikan Jawa Tengah”.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Balai Pengembangan Mutu Pembelajaran dan Teknologi Pendidikan (BPMPTP), Kota Semarang, Kamis (6/8/2026), menjadi ruang pertemuan bagi para pemangku kepentingan pendidikan untuk memperkenalkan berbagai terobosan yang dirancang berdasarkan persoalan nyata di lapangan.

Empat inovasi tersebut lahir dari gagasan para pimpinan unit kerja di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah. Setiap program membawa pendekatan yang berbeda, mulai dari pemanfaatan data, penguatan karakter, ketahanan pangan, sampai peningkatan kesiapan kerja lulusan sekolah menengah kejuruan.

Inovasi pertama, Pintar di Jateng, digagas oleh Kepala BPMPTP, Kristiawan Nurdianto. Program ini mengusung pemanfaatan sistem *business intelligence* terintegrasi untuk membantu pemerintah melakukan intervensi peningkatan mutu pendidikan secara lebih tepat sasaran.

Melalui pengolahan data yang terintegrasi, Pintar di Jateng diarahkan untuk memetakan kondisi pendidikan, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerentanan sosial. Informasi yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi dasar dalam menentukan kebijakan, menyusun program, dan menyalurkan dukungan sesuai kebutuhan masing-masing daerah.

Pendekatan berbeda ditawarkan melalui Lentera Unggul yang digagas Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah I, Deyas Yani Rahmawan. Inovasi tersebut dirancang sebagai laboratorium edukasi dan ketahanan pangan terpadu yang akan diterapkan di SMK Negeri 1 Bawen.

Lentera Unggul tidak hanya menjadi sarana pembelajaran bagi peserta didik, tetapi juga diproyeksikan sebagai ruang praktik yang menghubungkan pendidikan, produktivitas, dan pemanfaatan potensi lingkungan. Melalui program tersebut, sekolah diharapkan mampu memperkuat pembelajaran kontekstual sekaligus menanamkan kesadaran mengenai ketahanan pangan.

Penguatan karakter peserta didik turut menjadi perhatian melalui inovasi Sipendikar 7 Kasiat. Program yang digagas Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II, Haris Wahyudi, tersebut berfokus pada penerapan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat dalam lingkungan pendidikan.

Pembiasaan itu diharapkan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi berkembang menjadi budaya yang diterapkan secara konsisten di sekolah. Karakter disiplin, tanggung jawab, kemandirian, serta kepedulian sosial ditempatkan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembelajaran.

Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah XII, Diah Ayu Ratna Sari, menghadirkan inovasi Ngopeni SMK. Program tersebut berorientasi pada penguatan nilai-nilai industri dan karakter kerja untuk meningkatkan kesiapan lulusan SMK memasuki dunia kerja.

preferred sources in Google Searc


Editor: Redaksi

Terkait

Komentar

Terkini