PMLP SCU bersama CLICCC Dorong Penguatan Klaim Loss and Damage untuk Wujudkan Keadilan Iklim
NYALANUSANTARA, Semarang - Perubahan iklim tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga meninggalkan kehilangan dan kerusakan yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Kondisi ini mendorong perhatian Program Magister Lingkungan dan Perkotaan Soegijapranata Catholic University (PMLP SCU) bersama Contesting Loss for Indonesian Communities in Climate Crisis (CLICCC) melalui Kuliah Umum, Talk show, dan Lokakarya bertajuk “Iklim dan Advokasi atas Loss and Damage sebagai perwujudan Keadilan Iklim”, Selasa (29/9).
Wujudkan Keadilan Iklim
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Thomas Aquinas Kampus 1 SCU Bendan ini mempertemukan akademisi, peneliti, dan masyarakat untuk membahas pengalaman komunitas yang menghadapi dampak perubahan iklim sekaligus memperkuat pemahaman mengenai kerangka Loss and Damage.
Loss and Damage merujuk pada kerugian dan kerusakan akibat perubahan iklim yang tidak selalu dapat dicegah atau dipulihkan melalui upaya adaptasi. Dampaknya dapat berupa kerugian ekonomi maupun non-ekonomi yang dialami komunitas, terutama kelompok yang bergantung pada sumber daya alam seperti petani kecil dan nelayan.
Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Lingkungan SCU, Benny Danang Setianto, S.H., LL.M., MIL., Ph.D., menegaskan pentingnya mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman masyarakat dalam membahas persoalan lingkungan.
“Persoalan iklim tidak cukup dibahas dari sisi lingkungan, tetapi perlu melihat pengalaman masyarakat yang berada langsung dalam situasi tersebut. Ruang akademik perlu menjadi tempat untuk mempertemukan pengetahuan dengan pengalaman warga,” tegasnya dalam sambutan.
Gagasan
Kuliah umum menghadirkan narasumber dengan perspektif yang saling melengkapi, yaitu Dr. Hotmauli Sidabalok, S.H., M.H., C.N. (PMLP-SCU), Dr. Dewi Candraningrum, S.Pd., M.Ed. (Jejer Wadon Collective), dan Dr. Yesaya Sandang, S.H., M.Hum. (UKSW). Ketiganya mengangkat pengalaman masyarakat pesisir dan miskin kota, pengalaman perempuan dalam menghadapi krisis iklim, serta keterhubungan masyarakat dan ekosistem dari wilayah hulu hingga hilir.
Dr. Hotmauli menyoroti pengalaman masyarakat pesisir dan miskin kota di wilayah pesisir utara Jawa Tengah. Ia menyoroti dampak perubahan iklim terhadap ruang hidup dan mata pencaharian masyarakat.
“Pengalaman masyarakat pesisir menunjukkan bahwa kehilangan dan kerusakan akibat krisis iklim tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, tetapi juga ruang hidup dan keberlanjutan kehidupan masyarakat,” jelas Dr. Hotmauli.
Editor: Holy
Terkini
NYALANUSANTARA, Ungaran- Kabupaten Banyumas berhasil meraih juara umum…
Semarang — Sebanyak 1.000 peserta mengikuti DOSS Photolympic…
NYALANUSANTARA, SEMARANG- Maxim resmi menghadirkan layanan BikeXL di Semarang…
NYALANUSANTARA, KLATEN- Maxim menyalurkan santunan penggantian biaya pengobatan sebesar…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- UniPin, platform penyedia layanan produk digital, resmi…
Semarang — Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng memperkuat…
Semarang — Lebih dari 3.000 peserta mengikuti Semarang…
NYALANUSANTARA, SURABAYA- Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)…
NYALANNUSANTARA, YOGYAKARTA- Festival Pesta Boneka 2026 yang diinisiasi Papermoon…
NYALANUSANTARA, Kendal – Kabupaten Kendal memiliki potensi untuk…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Serangan yang menyasar Bandara Internasional Raja Khalid…

Komentar