Guru Besar Antropologi UNAIR Dorong Pengelolaan Mata Air untuk Mitigasi Krisis Hidrologi Jatim
ISTIMEWA
NYALANUSANTARA, SURABAYA- Guru Besar Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Dr. H. Muhammad Adib, Drs., M.A., menekankan pentingnya pengelolaan mata air sebagai bagian dari upaya menghadapi ancaman krisis hidrologi di Jawa Timur.
Hal tersebut disampaikan Prof. Adib dalam Forum Diskusi Multipihak Perhutanan Sosial dan Sistem Pangan Berkelanjutan Jawa Timur 2026 yang digelar Koalisi Sistem Pangan Lestari (KSPL) bersama Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) di Movenpick Hotel Surabaya, Selasa (29/9/2026).
Prof. Adib yang juga merupakan Koordinator Laboratorium Manusia, Budaya, dan Ragawi (Lab. MaBuRag) FISIP UNAIR menyampaikan bahwa kebijakan terkait perhutanan sosial perlu diarahkan pada tindakan konkret untuk menjaga sumber air.
“Kita perlu melakukan reframing dalam konteks darurat hidrologi Jawa Timur. Fokus kebijakan harus digeser dari hanya izin administratif menjadi aksi nyata menjaga mata air,” tegas Prof. Adib.
Forum tersebut bertujuan menggali kontribusi perhutanan sosial terhadap penguatan ketahanan sekaligus transformasi sistem pangan berkelanjutan. Kegiatan diikuti akademisi dan pakar perguruan tinggi, pemerintah daerah, instansi sektoral, BUMN, pengelola kawasan hutan, masyarakat lokal, komunitas, organisasi masyarakat sipil, hingga lembaga riset.
Tiga Langkah Hadapi Krisis Air
Dalam forum tersebut, Prof. Adib menawarkan sejumlah langkah untuk memperkuat penanganan krisis hidrologi. Pertama, penguatan regulasi yang mendukung perlindungan sumber mata air. Kedua, menjadikan kampus sebagai living laboratory untuk pengembangan solusi berbasis riset. Ketiga, memperkuat sinergi antara berbagai sektor dan pemangku kepentingan.
Ia juga mencontohkan upaya yang telah dilakukan tim UNAIR melalui fasilitasi Satgas Peduli Mata Air sebagai salah satu bentuk keterlibatan perguruan tinggi dalam menjaga keberlanjutan sumber air.
Gagasan tersebut mendapat respons dari Ketua Tim Kerja Perhutanan Sosial Bidang Pengelolaan DAS Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, Emmi Mulyaniati, S.Hut., M.P. Ia menilai pengelolaan air akan menjadi salah satu isu penting dalam menghadapi tantangan ekologis di masa mendatang.
“20 tahun lagi, yaitu dari 2044-2060, air adalah bahasan utama. Kita akan memasuki periode air dan beranjak dari periode api,” ujar Emmi.
Editor: Lulu
Terkini
NYALANUSANTARA, Ungaran- Kabupaten Banyumas berhasil meraih juara umum…
Semarang — Sebanyak 1.000 peserta mengikuti DOSS Photolympic…
NYALANUSANTARA, SEMARANG- Maxim resmi menghadirkan layanan BikeXL di Semarang…
NYALANUSANTARA, KLATEN- Maxim menyalurkan santunan penggantian biaya pengobatan sebesar…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- UniPin, platform penyedia layanan produk digital, resmi…
Semarang — Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng memperkuat…
Semarang — Lebih dari 3.000 peserta mengikuti Semarang…
NYALANUSANTARA, SURABAYA- Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)…
NYALANNUSANTARA, YOGYAKARTA- Festival Pesta Boneka 2026 yang diinisiasi Papermoon…
NYALANUSANTARA, Kendal – Kabupaten Kendal memiliki potensi untuk…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Serangan yang menyasar Bandara Internasional Raja Khalid…

Komentar