Strategi Atasi Minimnya Anggaran Riset di Indonesia

Strategi Atasi Minimnya Anggaran Riset di Indonesia

NYALANUSATARA, SURABAYA- Riset menjadi kunci kemajuan bangsa, namun keterbatasan anggaran masih jadi tantangan besar di Indonesia. Menurut data Bank Dunia (2020), Indonesia hanya mengalokasikan 0,2% PDB untuk riset, jauh di bawah rata-rata global 2,67% PDB.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga, Prof Rossanto Dwi Handoyo SE MSi PhD, menilai angka tersebut jauh dari ideal. “Kalau ingin menjadi negara yang menguasai perekonomian, seharusnya anggaran riset bisa ditingkatkan,” ujarnya.

Prof Rossanto mencontohkan Korea dan China yang berhasil tumbuh menjadi negara industri berkat tingginya belanja riset dan inovasi. “Tanpa riset, kita hanya akan jadi imitating country yang terus bergantung pada impor,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa riset tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah. Peran swasta dinilai penting untuk memperkuat ekosistem riset. Pemerintah, katanya, bisa mendorong melalui insentif fiskal.

“Kalau perusahaan membuat divisi riset, maka biaya itu bisa dianggap sebagai deductible tax. Dengan begitu, pemerintah tak perlu menanggung seluruh biaya riset, tapi tetap bisa membangun ekosistem inovasi,” jelasnya.


Editor: Lulu

Terkait

Komentar

Terkini