Ratusan Warga Antusias Sambut Hajad Dalem Labuhan Keraton Yogyakarta di Pantai Parangkusumo

Ratusan Warga Antusias Sambut Hajad Dalem Labuhan Keraton Yogyakarta di Pantai Parangkusumo

jogjaprov.go.id

NYALANUSANTARA, Bantul - Hari Minggu yang cerah di Pantai Parangkusumo, Kretek, Bantul disambut dengan antusias oleh ratusan warga yang berbondong-bondong mengikuti Hajad Dalem Labuhan Keraton Yogyakarta. 

Acara yang berlangsung meski di tengah teriknya matahari itu menjadi penutup rangkaian peringatan 36 tahun Tingalan Jumenengan Dalem (Ulang Tahun Kenaikan Takhta) Sri Sultan Hamengku Buwono X menurut hitungan kalender Jawa pada 29 Rejeb atau bertepatan dengan 10 Februari 2024.

Labuhan, yang berasal dari kata "labuh" yang berarti membuang, meletakkan, atau menghanyutkan, memiliki banyak makna dan fungsi dalam budaya Jawa. 

Salah satunya adalah sebagai upaya panyuwunan (permohonan), atur panuwun (ucapan terima kasih), napak tilas (mengenang kembali), dan memayu hayuning bawana (memperindah dunia).

Salah satu Abdi Dalem yang turut serta dalam acara tersebut, Budi, menjelaskan bahwa kegiatan labuhan ini merupakan bagian dari rutinitas tahunan yang jatuh pada bulan ruwah, yang juga menandai awal bulan puasa serta sebagai ungkapan rasa syukur dari Keraton Yogyakarta. 

"Jadi tidak menyimpang dari aturan agama. Dari pihak keraton itu memakai yang utama memang agama dan kedua budaya," ujarnya.

Prosesi Hajad Dalem Labuhan tidak hanya dilaksanakan di Pantai Parangkusumo, tetapi juga di Gunung Merapi dan Gunung Lawu. Prosesi labuhan pada kedua lokasi tersebut dilaksanakan pada hari Senin, 12 Februari. 

Sebelumnya, rangkaian Hajad Dalem Tingalan Jumenengan Dalem diawali dengan prosesi Ngebluk pada Kamis, 8 Februari, Ngapem pada Jumat, 9 Februari, dan Upacara Sugengan pada Sabtu, 10 Februari.

Ubarampe (perlengkapan) yang akan dilabuhkan telah diinapkan semalam di Bangsal Srimanganti. Ubarampe tersebut diberangkatkan dari Keraton Yogyakarta sekitar pukul 08.00 WIB dan dilepas oleh para petinggi Keraton kepada para Abdi Dalem yang bertugas untuk menuju Pantai Parangkusumo.

Ada sekitar 30 macam ubarampe yang disiapkan, termasuk perangkat pakaian dan potongan rambut dari Sri Sultan. Sebelum dibawa menuju kompleks petilasan Cepuri Parangkusumo, ubarampe diserahkan kepada Kepala Kundha Kabudayan Bantul, Mas Riya Praja Setyo, mewakili Bupati Bantul, di Pendapa Kapanewon Kretek Bantul oleh Utusan Dalem yang diwakili oleh KRT Wijaya Pamungkas.

Setelah diserahkan, ubarampe dibawa menuju Pendapa Cepuri Parangkusumo dan tiba sekitar pukul 10.00 WIB untuk diserahkan kepada Juru Kunci Cepuri Parangkusumo, Mas Wedana Surakso Jaladri. Kemudian, kelengkapan ubarampe yang dibawa dicek kembali dan didoakan.

Ubarampe labuhan ini terdiri dari tiga jenis wadah sesaji, yaitu Pengajeng, Pendherek, dan Lorodan Ageman Dalem. Setelah didoakan, ubarampe dibawa ke bibir pantai dan dilabuh ke Samudra Hindia. 

Masyarakat yang telah memadati bibir Pantai Parangkusumo dengan antusias turut melabuhkan sesaji dan memperebutkan benda lain dari sesaji labuh yang konon dipercaya membawa berkah.

Salah satu warga, Putri, yang berasal dari Kediri, mengungkapkan kegembiraannya atas kesempatan ikut serta dalam prosesi labuhan ini. 

"Ini pertama kali ikut labuhan. Memang tujuannya mau ikut larungan ini. Dari kemarin sudah sempat nyekar ke cepuri, terus malamnya bermalam di pinggir pantai sambil nunggu (labuhan) ini. Alhamdulillah dapat (sesaji labuhan)," ungkapnya.

Putri berhasil mendapatkan salah satu sesaji labuhan yang akan disimpannya sebagai wujud berkah. 

"Ini untuk disimpan saja. Istilahnya sebagai wujud berkahnya gitu. Kan kepercayaan juga. Jadi kalau kita orang Jawa itu kan kepercayaannya seperti ini. Dapat sesaji biar dapat barokahnya. Rezeki, usaha lancar juga," tambahnya.

preferred sources in Google Searc


Editor: Admin

Terkait

Komentar

Terkini