Jurnalis dan Akademisi ASEAN Kunjungi Zhejiang, Rasakan Langsung Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Lewat AI

Jurnalis dan Akademisi ASEAN Kunjungi Zhejiang, Rasakan Langsung Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Lewat AI

Foto: Xinhua

"Saya melihat inklusivitas di China, setiap orang memperoleh kesempatan kerja, hal itu bagian penting dari hak asasi manusia," sambungnya.

Roy pertama kali mengunjungi China pada 1995. Tiga puluh tahun berlalu, dia melihat negara yang jauh lebih modern dengan perumahan baru, taraf hidup yang lebih tinggi, dan lingkungan kerja yang lebih nyaman. Hal yang paling mengesankan baginya adalah berbagai robot inspeksi yang membebaskan para pekerja dari pekerjaan berisiko tinggi, menjadikan keselamatan kerja hal yang benar-benar nyata.

"Kami menyaksikan langsung proses digitalisasi di China, tidak hanya dalam perkembangan robot dan AI, tetapi juga dalam pembangunan sistem medis, layanan perdagangan, dan pelestarian budaya," urai Roy. 

Disampaikan Roy, pencapaian China dalam kecerdasan buatan akan memberikan manfaat bagi negara-negara ASEAN dan dunia.

Di Desa Yucun, wilayah Anji, Kota Huzhou, hutan bambu yang hijau menyelimuti pegunungan berkabut. Rombongan itu mengunjungi "Yucun Impression", bekas pabrik yang dibangun menjadi perpustakaan. Bangunan ini merupakan gedung nol karbon pertama di desa itu yang mengantongi sertifikasi platinum ganda domestik dan internasional. Gedung ini menggunakan sistem pembangkit listrik tenaga surya untuk mencapai "kompensasi karbon" (carbon offset) dan emisi nol sepanjang siklus pengoperasiannya.

Melalui film dokumenter, para partisipan menyaksikan Desa Yucun sebelumnya merupakan desa industri tambang. Eksploitasi berlebihan membuat lereng menjadi gundul dan cerobong pabrik semen terus mengeluarkan asap. Setelah pemulihan selama 20 tahun, lereng itu kini dipenuhi oleh tanaman hijau, lokasi tambang yang terbengkalai diubah menjadi danau biru dan kawasan berkemah, sementara homestay, kafe, dan wisata berkelanjutan dikembangkan menjadi penggerak ekonomi baru.

"Lewat kerja sama pemerintah daerah dan warga, Yucun tidak hanya memulihkan lingkungan, tetapi juga mengembangkan industri pariwisata ramah lingkungan. Ini sangat menggembirakan," tutur Thet Wai San. 

Selama dua dekade, Yucun berhasil melakukan transformasi dari "menambang gunung" menjadi "memelihara gunung demi kemakmuran", dan dicantumkan ke dalam daftar Desa Wisata Terbaik di Dunia. Pada 2024, Yucun menerima 1,22 juta wisatawan, dan meraup pendapatan kolektif desa senilai 22,05 juta yuan (1 yuan = Rp2.343), serta pendapatan per kapita warganya mencapai 74.000 yuan.

Dari "menjual batu" menjadi "menyuguhkan pemandangan", Yucun menunjukkan bagaimana ekologi yang terpelihara dengan baik dapat membawa manfaat ekonomi, menyatukan hak lingkungan dan hak pembangunan warga. "Yucun dapat memelihara lingkungan alam sekaligus mengembangkan pariwisata demi kesejahteraan masyarakat. Model pembangunan ini sangat layak untuk ditiru," ujar Olivia. 


Editor: Redaksi
Sumber: Xinhua

Terkait

Komentar

Terkini