SPY x FAMILY EPISODE 38- 40, Luka Perang yang Tak Pernah Sembuh

SPY x FAMILY EPISODE 38- 40,  Luka Perang yang Tak Pernah Sembuh

“Saya tidak berpikir,” tulis penulis Inggris Elizabeth Bowen dalam kata penutup untuk kumpulan cerpennya tahun 1945, The Demon Lover, “bahwa kekeringan, oleh perang, dari kehidupan sehari-hari kita bisa cukup membuat stres.” Meskipun ia menulis tentang pengalamannya di London selama Perang Dunia II, saya rasa Loid Forger akan sangat memahami apa yang dimaksud. Apa pun bentuk perang yang dialami seseorang, ia selalu meninggalkan bekas—dan terkadang, bekas luka itu diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, entah kita menginginkannya atau tidak.

Bagi Loid, masa kecilnya yang diliputi perang panas telah membentuk kehidupannya di tengah perang dingin dunia SPY x FAMILY. Sadar atau tidak, pengalaman itu menuntunnya menjadi sosok “Loid Forger”: seorang ayah, suami, dan mata-mata.

Mungkin karena latar keluarga saya yang juga membawa beban sejarah Perang Dunia II, episode ke-40 menjadi yang paling menyentuh dari tiga episode pembuka musim ini. Saat Preview Guide dulu, saya sempat merasa musim terbaru SPY x FAMILY tidak akan menampilkan sisi terbaiknya. Namun, setelah menonton satu setengah episode tentang masa lalu Loid, saya benar-benar senang mereka memulai dengan kehadiran Miss Schlag si “tonitrus”—kata Jerman yang berarti “hantaman”.

Melihat Anya dan Damian kembali berinteraksi memang selalu menyenangkan, tetapi konteksnya kali ini jauh lebih dalam. Dulu, Loid memikul rasa bersalah karena kehilangan tiga teman masa kecilnya—pertama mengira mereka tewas dalam pemboman, lalu tahu bahwa mereka gugur di medan perang. Kini, ia menyaksikan Anya menyelamatkan Damian. Tentu, terkena tonitrus bukanlah hal sebanding dengan kematian, tetapi dalam konteks Eden College dan Operation Strix, peristiwa itu menjadi cermin simbolis: Anya hidup di dunia yang tidak sempat dinikmati Loid. Sebagai ayah, ia tanpa sadar melakukan apa yang tidak pernah didapatkannya dari sang ayah dulu—memberi perlindungan dan kasih sayang.

Kembali ke gagasan Bowen tentang “kekeringan kehidupan sehari-hari”, sebelum ditugaskan untuk Operation Strix, hidup Loid mungkin bisa digambarkan seperti itu: kering dan kosong. Dua kali ia kehilangan “kenormalan” akibat perang, dan reaksinya selalu sama—marah dan berjuang kembali. Tapi kini, beralih dari bagian “spy” ke bagian “family” mulai mengubah hidupnya dari padang gersang menjadi sesuatu yang lebih hangat.

Gambaran pembuka musim ini—Anya memimpin versi anak-anak Loid dan Yor dalam permainan—menjadi simbol yang indah: dengan menjadi keluarga, mereka belajar berdamai dengan masa lalu dan melangkah maju.

Tentu, proses itu tidak terjadi seketika. Di akhir episode 40, ketika Loid terbangun, ia masih berpikir, “Ini rumah Loid,” bukan “Ini rumahku.” Jarak emosional itu masih ada. Namun kini ia lebih mampu menunjukkan perhatian—perubahan besar bagi seseorang yang pernah kehilangan semua orang yang dicintainya. Dari pria yang dulu kaku bahkan kepada Franky, kini ia bisa menegur Bond agar tidak makan bawang. Kedengarannya sepele, tapi bagi Loid, itu langkah besar.


Editor: Lulu

Terkait

Komentar

Terkini