Fermat no Ryōri Anime Series Review Episodes 6-12

Fermat no Ryōri Anime Series Review Episodes 6-12

NYALAUSATARA, TOKYO- Gaku akhirnya berhasil melalui berbagai ujian awal dari Kai dan kini bekerja penuh waktu sebagai koki di restoran milik sang mentor. Tantangan besar menantinya: menyiapkan hidangan spesial untuk acara penghargaan tempat sahabat masa kecilnya, Ichitarō, menerima penghargaan di bidang matematika. Momen ini membuat Gaku harus memanfaatkan seluruh kemampuan memasaknya sekaligus membuktikan kepada sahabat lamanya bahwa ia tidak salah memilih jalan hidup sebagai koki.

Ulasan:

Setelah menonton lima episode awal musim ini, keluhan terbesar saya adalah bagaimana Fermat membangun premis menarik yang tidak dimanfaatkan secara maksimal. Anime ini sejak awal menjual konsep protagonis yang menggabungkan matematika dalam dunia memasak—sebuah ide yang sangat potensial karena banyak koki nyata menggunakan sains dan perhitungan untuk menyempurnakan rasa. Episode-episode awal masih menunjukkan teknik sederhana yang menarik, tetapi setelah itu fokusnya bergeser menjadi cerita emosional melalui masakan, alih-alih menonjolkan sisi matematis yang menjadi daya tarik utama.

Meski elemen emosionalnya kuat, identitas uniknya sempat melemah. Namun, paruh kedua musim seperti menjawab keluhan tersebut langsung. Serial ini tidak hanya mengakui kurangnya sentuhan matematika, tetapi menjadikannya bagian penting dari plot utama. Meski jumlah hidangan yang disorot lebih sedikit dibanding awal musim, kekuatan emosionalnya jauh lebih terasa.

Di bagian ini juga akhirnya penonton diperkenalkan kepada Ichitarō, sahabat ketiga yang dulunya selalu belajar matematika bersama Gaku. Karakter Ichitarō digambarkan sebagai kebalikan dari Gaku—seseorang yang sepenuhnya tenggelam dalam dunia matematika hingga mengabaikan aspek lain dari kehidupan. Kejeniusan yang ia miliki justru membuatnya sulit berhubungan dengan orang lain, bahkan menciptakan aura tekanan bagi orang di sekitarnya. Sayangnya, interaksi langsungnya dengan karakter lain masih terbatas dan hanya memberikan sedikit gambaran dari potensinya.

Paruh kedua musim ini menekankan bahwa Gaku harus memadukan keterampilan memasak barunya dengan kecerdasan matematis yang hampir ia lupakan. Meskipun teknik matematika tidak banyak ditampilkan secara eksplisit, buildup emosional dan naratifnya terasa memuaskan pada klimaks cerita. Pada akhirnya, anime ini berhasil memadukan kedua kekuatan utamanya—emosi dan logika—di bagian penutup musim.

Namun, masalah lain muncul: akhir cerita terasa menggantung. Banyak janji akan perkembangan karakter dan kejadian masa depan yang tidak diberi resolusi. Bahkan kesehatan mental sang tokoh utama dibiarkan menjadi cliffhanger. Tanpa pengumuman musim kedua, akhir ini terasa sangat tidak tuntas.


Editor: Lulu

Terkait

Komentar

Terkini