ulasan Love Through a Prism: Romansa Seni yang Indah, Rapuh, dan Tetap Menghibur

ulasan Love Through a Prism: Romansa Seni yang Indah, Rapuh, dan Tetap Menghibur

Cerita Klise yang Sesekali Brilian

Secara naratif, Love Through a Prism bermain di wilayah yang sangat familiar. Banyak bagian cerita mudah ditebak, termasuk konflik cinta segitiga yang menarik namun diselesaikan terlalu cepat. Beberapa elemen terasa ganjil—termasuk subplot absurd tentang pembantu yang kerasukan setan—yang sempat menjadi titik terendah serial ini. Namun menariknya, kekonyolan tersebut kemudian “dibingkai ulang” dengan cerdas hingga terasa dapat diterima.

Anime ini juga menggunakan seni animasi sebagai solusi naratif, menyelesaikan krisis cerita melalui visual alih-alih dialog. Bahkan sejarah nyata dimanfaatkan untuk menciptakan konflik tambahan. Di sinilah serial ini menunjukkan kecerdikan yang sesekali muncul di tengah struktur cerita yang rapuh.

Karakter Pendukung yang Bersinar

Ironisnya, karakter pendukung justru terasa lebih hidup dibanding pemeran pria utama. Dorothy, sahabat Lili yang antusias dan terobsesi samurai serta ninja, tampil menggemaskan sekaligus bijak dalam memandang cinta. Seorang gadis kaya yang malang membawa nuansa komedi ala Glinda dari Wicked. Bahkan guru seni yang awalnya tampak seperti karikatur pedagogis akhirnya mendapat beberapa adegan paling menyentuh di serial ini.

Visual Monokrom dan Akhir yang Biasa Saja

Episode-episode terakhir menonjol lewat penggunaan visual monokrom artistik, diselingi kilasan warna. Teknik ini awalnya memiliki alasan naratif yang jelas, meski lama-kelamaan terasa kurang meyakinkan. Namun kualitas visualnya begitu kuat hingga sulit untuk benar-benar mempermasalahkannya. Bahkan, Love Through a Prism mungkin membantu memulihkan citra anime hitam-putih setelah kekecewaan Uzumaki.

Jika menilai sebuah serial dari penutupnya saja, maka anime ini mungkin terasa mengecewakan. Akhir ceritanya tidak spektakuler, namun juga tidak menjadi bencana. Ada banyak anime romantis yang lebih kuat—termasuk Emma: A Victorian Romance yang rilis dua dekade lalu. Love Through a Prism jelas tidak akan memiliki daya tahan budaya seperti Boys Over Flowers. Namun, sebagai karya yang dibuat dengan penuh perhatian dan keindahan visual, serial ini tetap sangat menghibur.

Penutup

Dengan total 20 episode—beberapa berdurasi panjang seperti Episode 6 yang mencapai 40 menit—serial ini nyaris setara dengan dua musim penuh. Episode terakhir bahkan ditutup dengan epilog pascakredit yang cukup panjang.

preferred sources in Google Searc


Editor: Lulu

Terkait

Komentar

Terkini