Fire Force Season 3 Episode 16, Ketika Klimaks Terasa Terburu-buru

Fire Force Season 3 Episode 16, Ketika Klimaks Terasa Terburu-buru

NYALANUSANTARA, TOKYO- Entah hanya perasaan saya atau memang ada yang kurang pas, tetapi gagasan bahwa Shinra harus sepenuhnya menerima takdirnya sebagai figur penyelamat umat manusia—semacam mesias bergaya Kristus—untuk menghadapi sosok kaisar-dewa hasil manifestasi seluruh budaya manusia seharusnya menjadi titik terpenting dalam cerita. Sayangnya, bagian kedua dari musim terakhir Fire Force justru terasa melaju terlalu kencang. Banyak penonton juga menyoroti betapa cepatnya adaptasi sisa bab manga, dan episode “Savior” menjadi momen pertama di mana tempo berlebihan itu benar-benar mengganggu kenikmatan cerita.

Padahal, secara komponen, episode ini memiliki semua bahan yang dibutuhkan untuk menjadi luar biasa. Di paruh awal, para karakter pendukung sibuk menyelamatkan warga dan bertarung melawan White Clad, hingga tiba-tiba avatar Raffles I muncul dari Adolla. Ia hadir melayang di tengah semacam roda dharma yang rusak, dengan kumis dan janggut ikonik yang kini tampak seperti api eterik mengerikan—sebuah visual simbolis yang menarik, meski belum tentu memiliki makna filosofis yang mendalam selain nilai estetik.

Ketika manusia mulai diliputi ketakutan dan Raffles I menghancurkan segalanya, sebenarnya ada potensi besar untuk menggali tema tentang bagaimana imajinasi manusia membentuk entitas Adolla. Namun, ini tetap Fire Force. Lapisan komentar sosial atau filsafat hanya hadir sekilas, karena tujuan utamanya tetap sama: memberi Shinra kesempatan untuk meninju Tuhan tepat di wajahnya. Seharusnya ini menjadi puncak epik dari perjalanan panjang dunia dan ceritanya, tetapi ritme yang terlalu cepat membuat penonton nyaris tak sempat mencerna apa yang sedang terjadi.

Shinra, yang sempat nyaris menghilang di beberapa episode sebelumnya, tiba-tiba muncul dengan kesadaran penuh bahwa misinya adalah menghancurkan “dewa” ini. Meski perannya akhirnya terasa lebih natural berkat keterlibatan sang adik, sebagian besar episode “Savior” tetap terasa seperti sekadar daftar poin plot yang harus diselesaikan. Bisa jadi rasa janggal ini akan berkurang jika seluruh musim ditonton sekaligus tanpa jeda panjang antarbagian. Namun untuk saat ini, episode ini belum bisa disebut sebagai momen terbaik Fire Force.

Meski demikian, tidak semuanya mengecewakan. Distorsi realitas yang makin mendekati gaya visual khas karya-karya Atsushi Ohkubo tetap memikat. Peningkatan kekuatan Shinra dan Iris yang terjadi bersamaan di titik krusial cerita juga terasa memuaskan. Transformasi Shinra sendiri absurd dengan cara yang menyenangkan—ia menjelma menjadi karikatur Pahlawan Super yang ekstrem. Apakah ia Yesus Kristus versi dunia Fire Force, atau hanya Monkey D. Luffy versi alternatif? Serial ini dengan santai menjawab: memangnya apa bedanya?


Editor: Lulu

Terkait

Komentar

Terkini