Roll Over and Die EPISODE 4, Kacau tapi Menghibur

Roll Over and Die EPISODE 4, Kacau tapi Menghibur

Sejujurnya, paruh awal episode ini terasa seperti kekacauan total. Alurnya berantakan, berubah menjadi rangkaian kejadian acak yang menimpa Flum dan Sara tanpa penjelasan memadai. Kekacauan itu makin terasa lewat desain latarnya: tak ada satu pun ruang di laboratorium rahasia ini yang tampak saling terhubung. Gua menyeramkan, tabung-tabung fiksi ilmiah berisi cairan hijau, lubang pembuangan mayat, hingga ruangan putih steril seolah berasal dari fasilitas yang sama sekali berbeda. Ini cukup mengganggu, terutama karena saya jarang mempermasalahkan konsistensi latar—yang berarti, kali ini memang terasa benar-benar janggal.

Tentu saja, perbedaan estetika bisa saja digunakan secara sengaja untuk menciptakan suasana tidak nyaman. Mungkin Roll Over and Die ingin penonton melihat ruang-ruang kosong itu dan bertanya, “Apa yang sebenarnya terjadi di sini?” Sayangnya, yang muncul di kepala saya justru, “Apa mereka sempat menyelesaikan latar belakangnya?” Serial ini tampaknya belum cukup matang untuk memainkan eksperimen visual semacam itu, dan kekurangannya diperparah oleh momen-momen absurd lain. Ketika narator menjelaskan sesuatu yang sudah jelas terlihat di layar, saya hanya bisa tertawa. Belum lagi kemunculan ogre yang “meluncur” dari balik pilar terlalu kecil—terasa seperti lelucon kartun murahan yang lebih cocok untuk animasi Flash era Newgrounds ketimbang anime televisi profesional.

Anehnya, saya tidak sepenuhnya kesal. Banyak kekurangan di paruh pertama justru terasa menghibur. Pengalihan cerita ke bawah tanah sempat memutus momentum, jadi saya tak keberatan jika ada detail-detail ganjil yang mengalihkan perhatian. Namun, ini menimbulkan kebingungan soal nada cerita. Serial ini seolah ragu: apakah ingin serius dengan horor tubuh, atau bermain slapstick? Adegan wanita tanpa wajah yang menyerap tangan Flum bisa menjadi sangat mencekam dengan pendekatan yang lebih sabar. Begitu pula tumpukan mayat membusuk yang seharusnya menjijikkan, tetapi malah diedit seperti lelucon fisik. Meski begitu, ketika Flum melontarkan dialog absurd di tengah situasi genting, saya akhirnya menyimpulkan bahwa sebagian kekonyolan ini memang disengaja.

Untungnya, paruh kedua episode ini jauh lebih solid. Ritmenya membaik dan cerita kembali ke jalur yang menarik. Saya menyukai bagaimana kenangan Flum tentang rekan-rekan lamanya justru menjadi sumber kekuatan di saat kritis. Ini memang perangkat naratif sederhana, tetapi efektif dalam menambah kedalaman tema “dibuang dari kelompok”. Meski merasa dikhianati, Flum tetap dibentuk oleh hubungan-hubungan masa lalunya—bahkan oleh orang-orang yang kini menjadi musuh. Hidupnya adalah kumpulan pengalaman, baik yang menyembuhkan maupun yang melukai.

Pemanggilan Milkit sebagai sumber kekuatan untuk mengalahkan ogre terkutuk itu terasa memuaskan, sekaligus menjadi langkah maju ke arah dinamika yuri yang dijanjikan. Subtitel bahkan secara eksplisit menyebut Flum bertarung dengan cinta. Sayangnya, Milkit sendiri masih terasa kurang digarap dan membutuhkan alur cerita yang lebih kuat. Di sisi lain, saya justru sangat menikmati perkembangan cepat antara Sara dan Neigass. Biarawati dan iblis, musuh jadi kekasih, tinggi dan pendek—semua elemen klasik yuri yang sering kali membuat pasangan sekunder terasa lebih menarik daripada pasangan utama.

Soal iblis, episode ini juga memaksa saya merevisi dugaan sebelumnya. Neigass tampaknya tidak bersekutu dengan Gereja, dan justru memberi kesan bahwa para iblis mungkin berada di pihak yang “lebih benar”. Mereka punya kode untuk tidak membunuh manusia, sementara Gereja jelas terlibat dalam ritual mengerikan yang menghasilkan monster haus darah. Jika harus memilih, saya tahu pihak mana yang ingin saya bela—dan tampaknya Flum pun sepakat.

Pada akhirnya, episode ini terasa seimbang dengan caranya sendiri. Entah disengaja atau tidak, komedi diselipkan di bagian yang lemah, dan paruh awal yang stagnan akhirnya memberi ruang bagi paruh kedua yang lebih kuat secara naratif dan karakter. Mungkin inilah esensi Roll Over and Die: tidak pernah sepenuhnya bagus, tapi juga tidak pernah sepenuhnya buruk. Selama para gadis masih saling bertukar tatapan penuh makna, saya masih bisa menerimanya.


Editor: Lulu

Terkait

Komentar

Terkini