Shooting di Semarang, Berikut Ulasan Film “Takkan Kubiarkan Kau Menangis”
NYALANUSANTARA, Semarang - Suara sirene dan kabar tawuran kelompok kreak antar remaja di televisi menjadi pembuka Film Takkan Kubiarkan Kau Menangis. Film yang tayang di bioskop pada 16 Juli 2026 itu mengajak penonton menyusuri sisi kehidupan Kota Semarang, dinamika remaja hingga perjuangan seorang ibu tunggal membesarkan anaknya.
Film berdurasi 1 jam 48 menit tersebut berpusat pada sosok Dini yang diperankan Shanty. Sebagai ibu tunggal, Dini berusaha menjaga putra semata wayangnya, Dhika agar tidak terjerumus dalam pergaulan bebas yang bisa merusak masa depan.
Di sisi lain, Dhika yang diperankan Ari Irham menilai bahwa sang ibu terlalu mengekang kebebasannya. Dhika juga merasa ibunya tidak percaya akan mimpi besarnya menjadi seorang musisi.
Pertentangan itulah yang menjadi benang merah cerita. Dhika sempat membenci ibunya karena merasa tidak dipercaya. Namun di balik sikap protektif Dini tersebut ternyata menyimpan trauma akibat kekerasan dan pengkhianatan oleh mantan suaminya.
Konflik tersebut berujung haru ketika Dhika mampu membuktikan dirinya melalui bakat dan kerja keras hingga berhasil meraih cita-citanya sebagai musisi. Hubungan ibu dan anak yang sempat renggang perlahan pulih, menghadirkan akhir cerita yang emosional.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengaku larut dalam emosi saat menyaksikan film tersebut. Menurutnya, kisah film yang berlatar kehidupan Kota Semarang itu terasa dekat dengan pengalaman banyak orang yang pernah berjuang dalam hidup.
"Mau mewek, mau bahagia, mau deg-degan, nggak karuan. Ini reality banget. Ada bonding dan perasaan yang dekat, terutama bagi kita yang punya sejarah berjuang keras untuk mencapai titik sukses," ujar Agustina usai nonton Film Takkan Kubiarkan Kau Menangis, pada Rabu (22/7/2026) malam.
Agustina mengaku senang karena film tersebut berhasil menghadirkan identitas Kota Semarang secara kuat. Berbagai sudut kota ditampilkan dengan cukup autentik, mulai dari suasana permukiman warga, kawasan Kota Lama hingga kuliner khas lumpia yang menjadi ikon Kota Semarang.
"Yang paling menyenangkan film ini Semarang banget, sampai lumpia-lumpianya. Buat warga Semarang yang punya sejarah atau keterikatan dengan Semarang, kalau nggak nonton rugi," tuturnya seraya tersenyum.
Sutradara Film Takkan Kubiarkan Kau Menangis, Ferly Halim mengatakan bahwa pihaknya tidak hanya menjadikan Semarang sebagai latar visual. Talenta lokal seperti Mentik Wangi dan Brian Navito dilibatkan untuk membantu para pemain mempelajari logat khas Semarang serta berbagai ekspresi yang lazim digunakan masyarakat setempat.
"Kami menemukan Semarang sebagai kota yang hidden gem. Kota ini punya karakter yang kuat, seluruh proses syuting dilakukan di Semarang dan Jepara, 100 persen lokasi syuting di Jawa Tengah," ujar Ferly.
Untuk menghadirkan cerita yang autentik dan terasa dekat dengan warga Semarang, Ferly mengaku melakukan riset selama satu tahun. Riset tersebut mencakup bahasa sehari-hari warga Semarang hingga istilah yang akrab di kalangan remaja seperti "kreak".
"Kami juga melakukan riset bahasa-bahasa Semarang dan fenomena yang berkembang di masyarakat. Dari penulisan naskah, pra-produksi, syuting, editing sampai tayang membutuhkan waktu sekitar satu tahun," paparnya.
Selain itu, film ini juga sebenarnya menyoroti perjuangan dan pengorbanan ibu tunggal. Menurutnya banyak ibu tunggal yang rela mengesampingkan kepentingan pribadi demi memberikan masa depan terbaik bagi anak-anak mereka.
"Berdasarkan riset yang kami lakukan, banyak ibu tunggal yang berjuang yang menghiraukan dirinya sendiri. Mereka memberikan seluruh tenaga kepada anaknya, fenomena ini banyak terjadi di masyarakat saat ini," ungkap Ferly.
Pesan haru dalam film tersebut dirasakan langsung oleh anggota komunitas Srikandi Gojek Semarang, Anis yang menonton bareng 20 rekannya. Menurut dia, film tersebut menjadi pengingat bagi para orang tua untuk terus mendampingi anaknya agar tidak terjerumus dalam pergaulan bebas.
"Banyak remaja sekarang salah pergaulan dan itu realita yang terjadi di Semarang. Sebagai ibu tunggal, film ini bikin sedih dan bangga melihat perjuangan orang tua agar anaknya bisa sukses dengan segala keterbatasannya," tandas Anis.
Editor: Holy
Terkini
Semarang - PT KAI Daop 4 Semarang memastikan…
Semarang - PT KAI Daop 4 Semarang mengoperasikan…
Semarang – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti,…
NYALANUSANTARA, Semarang - Pembangunan fasilitas Koperasi Desa/Kelurahan Merah…
Munafik: Melawan Iblis menjadi salah satu film horor…
NYALANUSANTARA, SURABAYA- OPPO memastikan A7 Pro akan meluncur di…
NYALANUSANTARA, TANGGERANG- Kawasaki menghadirkan penyegaran untuk sepeda motor retro…
NYALANUSANTARA, BEIJING- BYD resmi meluncurkan Sealion 08 di pasar…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan menutup…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Gubernur Papua Matius D. Fakhiri menegaskan bahwa…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Bayern kini mengumpulkan empat poin, tertinggal dua…

Komentar