Review Film Muslihat (2025): Teror Mistis di Balik Religi dan Budaya Lokal

Review Film Muslihat (2025): Teror Mistis di Balik Religi dan Budaya Lokal

NYALANUSATARA, JAKARTA- Ingin menyaksikan film horor-religi yang menawarkan pengalaman berbeda dari kebanyakan? Muslihat bisa jadi pilihan menarik. Mengambil latar di sebuah panti asuhan, film ini menghadirkan atmosfer mencekam yang kental dengan nuansa religius, budaya lokal, dan misteri yang terus menggantung hingga akhir cerita.

1. Sentuhan Horor Religi yang Tak Biasa

Muslihat bukan sekadar film horor yang menyajikan teror hantu dan suara mengagetkan. Film ini membaurkan elemen keagamaan seperti ruqyah dan kesurupan dengan nuansa budaya yang khas Indonesia, menjadikannya terasa otentik sekaligus menyentuh.

Kisah tentang kekuatan tak kasatmata yang menghantui panti asuhan ini tak hanya menyeramkan, tetapi juga menyimpan makna spiritual, menjadikannya horor yang punya “isi”.

2. Adegan Kesurupan yang Intens dan Autentik

Salah satu kekuatan utama Muslihat terletak pada akting para pemain mudanya, terutama Ajeng Giona dan Jacqueline Immanuela. Adegan kesurupan yang mereka mainkan sangat meyakinkan, membuat bulu kuduk berdiri tanpa perlu bergantung pada efek jumpscare berlebihan.

Didukung dengan make up dan prostetik yang realistis, ekspresi wajah, gerakan tubuh, dan suara mereka berhasil membangun ketegangan yang benar-benar terasa.

3. Alur Misterius yang Terjaga Sampai Akhir

Meski premisnya mungkin terdengar familiar bagi penggemar film horor, Muslihat mampu menjaga rasa penasaran lewat pengungkapan cerita yang perlahan tapi pasti. Tokoh Syafa misalnya, dikenalkan dengan cara yang membuat penonton terus menebak-nebak peran pentingnya dalam konflik utama.

Narasi yang rapi dan petunjuk-petunjuk kecil yang tersebar membuat penonton tetap terjaga dari awal hingga akhir film.

4. Atmosfer Lokal yang Kuat

Salah satu nilai plus Muslihat adalah keberhasilannya mengangkat budaya lokal secara nyata dalam cerita. Mulai dari penggunaan lagu tradisional, dialog dengan bahasa daerah, hingga unsur kepercayaan masyarakat yang diangkat, semuanya membuat film terasa dekat dengan realitas Indonesia.

Kekayaan budaya ini bukan sekadar hiasan, tapi bagian penting dari narasi yang menambah daya tarik sekaligus kedalaman cerita.

5. Penampilan Aktor Pendukung yang Menyatu

Bukan hanya pemeran utama yang mencuri perhatian. Aktor seperti Ence Bagus dan Edward Akbar tampil dengan karakter kuat dan membumi. Kehadiran mereka bukan hanya sebagai pemanis cerita, tapi turut memperkaya konflik yang ada.

Chemistry antarpemain, terutama anak-anak panti yang diperankan oleh Keanu Azka dan kawan-kawan, juga terasa natural, membuat penonton mudah terhubung secara emosional dengan perjuangan mereka menghadapi teror.

preferred sources in Google Searc


Editor: Lulu

Terkait

Komentar

Terkini