Indonesia Berpacu Memulihkan Hutan Bakau yang Tergerus di Tengah Ancaman Erosi Pesisir

Indonesia Berpacu Memulihkan Hutan Bakau yang Tergerus di Tengah Ancaman Erosi Pesisir

NYALANUSANTARA, JAKARTA- Haryono (55), warga Muara Gembong, sebuah kecamatan di Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat, menceritakan bagaimana abrasi yang parah telah berulang kali memaksanya untuk memindahkan rumahnya.

   Pada tahun 2013, dia kali pertama membangun kembali rumahnya setelah ombak besar merusak kawasan hutan bakau di depan rumahnya. Hanya beberapa tahun kemudian, dia harus kembali memindahkan rumah bambunya karena garis pantai terus mundur.

   Dulu kami sibuk merawat hutan bakau, bukan hanya karena hutan bakau memiliki nilai ekonomi, tetapi juga karena peran konservasinya. Namun, kondisi pantai pesisir sudah rusak akibat abrasi, perluasan tambak ikan, dan penambangan pasir. Hutan bakau di sini telah berkurang lebih dari sebagiannya. Anda dapat melihat garis pantai telah berubah, katanya kepada Xinhua pada Sabtu (15/11).

   Hutan bakau berfungsi sebagai penghalang alami terhadap abrasi, gelombang tinggi, dan tsunami, sekaligus berfungsi sebagai penyerap karbon biru efisien yang mampu menyimpan karbon empat hingga lima kali lebih banyak dibandingkan hutan terestrial.

   Muara Gembong pernah dikenal dengan sabuk hutan bakaunya yang membentang sepanjang 25 kilometer di garis pantai utara Jawa. Sebuah penelitian pada tahun 2019 menemukan bahwa sejak tahun 1976, kawasan tersebut telah kehilangan 55 persen hutan bakaunya.

   Secara nasional, hilangnya hutan bakau terjadi di hampir seluruh daerah. Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia (RI) mengira Indonesia kini memiliki 3,44 juta hektar hutan bakau, lebih dari 20 persen dari total hutan bakau di dunia, turun dari 4,4 juta hektare pada tahun 1990.

   Menurut laporan Bank Dunia yang diterbitkan pada akhir tahun 2023, hutan bakau Indonesia menyimpan sekitar 3,14 miliar ton karbon dioksida, setara dengan emisi yang dihasilkan oleh 2,5 miliar kendaraan yang dikendarai selama satu tahun. Namun, setidaknya 750.000 hektare mengalami degradasi dan sangat memerlukan restorasi.


Editor: Lulu
Sumber: Xinhua

Terkait

Komentar

Terkini