Menilik Makna Kontemporer Tahun Baru Imlek dalam Pandangan Anak Muda Indonesia
NYALANUSANTARA, QINGDAO-Menjelang Tahun Baru Imlek pada 17 Februari mendatang, masyarakat Indonesia semakin antusias menantikan datangnya tahun baru yang menurut kalender shio China akan menjadi Tahun Kuda. Hal istimewa dari perayaan tahun ini adalah pengumuman pemerintah baru-baru ini bahwa Indonesia untuk pertama kalinya akan merayakan Imlek di tingkat nasional melalui rangkaian acara nasional Festival Harmoni Imlek Nusantara.
Bagi kalangan pemuda Indonesia, perayaan Imlek memiliki makna yang lebih mendalam dan kontemporer.
MENYELAMI SUASANA PERAYAAN IMLEK DI CHINA
Bagi Pede Elisabaeth Bundarti, anak muda asal Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat, Imlek merupakan "hal lama namun baru," karena untuk pertama kalinya Pede secara langsung merasakan nuansa perayaan Imlek di China sebagai mahasiswa asing di Politeknik Rizhao di Provinsi Shandong, China timur.
“Menyelami perayaan Imlek secara pribadi di tengah masyarakat Tiongkok adalah hal yang sama sekali baru dan menggembirakan, senang sekali berkumpul dengan teman dan menikmati makanan lezat bersama,” kata Pede sambil tersenyum.
Pede tiba di Rizhao untuk mendalami ilmu jaringan internet pada bulan September tahun lalu. Selain rajin membekali diri dengan ilmu yang dipelajarinya, Pede juga kerap meluangkan waktu untuk menghayati kebudayaan masyarakat Tiongkok, dan perayaan Imlek pun menjadi kesempatan yang tak mungkin dilewatkan.
Bagi Pede, kegiatan yang paling mengesankan adalah berpartisipasi dalam interaksi budaya yang digelar baru-baru ini di Distrik Donggang, Rizhao.
"Saya berkumpul bersama seniman rakyat, penduduk setempat, dan pelajar mancanegara dan kami bersama-sama belajar mengajarkan seni memotong kertas, membuat pangsit, dan memasak dimsum. Saya senang sekali menyanyikan lagu untuk para tamu yang datang," kenang Pede.
“Saya melihat bahwa warga Tiongkok sangat mewariskan tradisi sambil tetap memiliki wawasan ke depan, dan berhasil memadukan nuansa tradisional bersejarah dengan kehidupan modern,” ujarnya.
Bagi Pede, menulis kuplet Imlek atau chunlian merupakan hal yang paling berkesan. “Tulisan dalam kuplet mengandung harapan pada tahun yang baru, sehingga saya merasa terdorong untuk menjadi lebih baik pada tahun berikutnya,” ujar Pede. Dia menambahkan bahwa sebagai warga pendatang di Tiongkok, dia sungguh terpukau dengan tradisi Tahun Baru Imlek dan Kebudayaan masyarakat Tiongkok, yang sudah bersinar di kancah internasional.
Editor: Lulu
Sumber: Xinhua
Terkini
NYALANUSANTARA, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sesuai…
NYALANUSANTARA, Semarang – Bawaslu Kota Semarang mendorong penguatan…
NYALANUSANTARA, Surakarta – Universitas Diponegoro (UNDIP) sukses meraih…
NYALANUSANTARA, Jepara - Tim Pengabdian Kolaborasi Antar Perguruan…
NYALANUSANTARA, Semarang - Universitas PGRI Semarang atau UPGRIS…
NYALANUSANTARA, Semarang – Ditressiber Polda Jateng berhasil menemukan…
NYALANUSANTARA, Ungaran - Menjelang pemilihan kepala desa serentak…
NYALANUSANTARA, Sukoharjo – Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum…
NYALANUSANTARA, Jakarta – PT Astra Honda Motor (AHM)…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Perum Bulog menyiapkan 300 ribu ton beras…
NYALANUSANTARA, Semarang — Genap satu tahun hadir sebagai…

Komentar