Batik Peranakan Menjadi Lambang Keberagaman Budaya Indonesia Selama Berabad-abad
NYALANUSANTARA, PEKALONGAN- Pengaruh Kebudayaan Tiongkok dalam wastra Indonesia, khususnya pada batik peranakan, diyakini telah berlangsung selama ratusan tahun, bahkan jauh sebelum Indonesia resmi berdiri. Abad berganti, batik peranakan kini menjadi salah satu bukti paling jelas dari sejarah panjang keberagaman budaya di Indonesia.
Museum Batik Pekalongan menjadi lokasi yang paling tepat untuk menelusuri jejak sejarah batik peranakan di Indonesia. Museum ini memiliki sekitar 50 koleksi batik dengan motif yang dipengaruhi budaya masyarakat Tiongkok, mulai dari kain panjang, sarung, hingga kain persegi yang dipakai sebagai alas meja altar sembahyang, yang dalam bahasa Hokkien dikenal sebagai tokwi .
Sejak tahun lalu, museum ini rutin menggelar pameran koleksi batik peranakan setiap memasuki perayaan Tahun Baru Imlek. Tahun ini, pameran tersebut kembali menampilkan sejumlah koleksi batik peranakan yang kebanyakan telah berusia tua.
“Pameran batik peranakan ini menjadi cara kami menunjukkan akulturasi yang kuat antara beragam Kebudayaan, khususnya di Kota Pekalongan, yang kehidupannya tidak hanya dipengaruhi budaya lokal Jawa, tetapi juga budaya Tiongkok serta Arab,” ujar Nurhayati Sinaga, kepala Museum Batik Pekalongan, kepada Xinhua pada 29 Januari lalu.
Pameran tahun ini berlangsung mulai 11 Februari hingga 10 Maret dengan menggandeng sebuah kelenteng bersejarah di Kota Pekalongan yang telah berusia ratusan tahun. Ruang pameran tidak hanya menampilkan kain batik panjang, tetapi juga sebuah meja sembahyang milik kelenteng tersebut yang dihias dengan tokwi berbentuk persegi dan bermotif khas batik peranakan.
EKSISTENSI BATIK PERANAKAN DI INDONESIA
William Kwan, peneliti sekaligus pemerhati wastra yang telah lama aktif menelusuri sejarah batik di Indonesia, mengisyaratkan eksistensi batik peranakan sudah ada sejak abad ke-19. Pada saat itu, kemungkinan besar batik peranakan diproduksi sebagai produk substitusi untuk impor kain bermotif asal India.
Mengingat mayoritas pemakainya pada masa itu adalah masyarakat keturunan Cina di pesisir utara Jawa, motif batiknya pun disesuaikan. Sejumlah ornamen yang identik dengan Kebudayaan masyarakat Tiongkok kemudian muncul, salah satunya adalah fenghuang atau burung feniks. Selain itu, kehadiran kolonial Belanda kala itu juga turut berkontribusi terhadap perjalanan batik peranakan, yang terlihat pada jenis batik encim.
“Batik peranakan ini menjadi semacam artefak budaya Indonesia yang menggambarkan adanya akulturasi antara Kebudayaan Tiongkok dan Indonesia,” sebutnya kepada Xinhua pada Rabu (11/2).
William menjelaskan ada tiga aspek penting untuk mengidentifikasi peranakan batik, yakni dari sisi motif, warna, dan pemakainya. Motif batik peranakan biasanya mengandung makhluk mitos yang diyakini masyarakat Tiongkok, seperti burung fenghuang dan naga, serta ornamen bunga khas seperti peoni.
Editor: Lulu
Terkini
NYALANUSANTARA, Semarang - Sejarah Hari Kebangkitan Nasional bermula…
NYALANUSANTARA, Semarang - Dosen Program Studi S1- Teknik…
NYALANUSANTARA, Semarang - Suasana seru dalam setiap acara…
NYALANUSANTARA, Semarang – Polda Jateng menegaskan komitmennya untuk…
NYALANUSANTARA, Semarang – Polda Jateng bersama Polrestabes Semarang…
NYALANUSANTARA, Kediri- Penyerang Persik Kediri, Jose Enrique, membuka…
NYALANUSANTARA, Semarang - Dalam rangka kesiapan pelayanan kegiatan…
NYALANUSANTARA, Kediri- Gustavo Almeida menjadi salah satu pemain…
NYALANUSANTARA, Semarang - Guna meningkatkan kualitas pelayanan informasi…
NYALANUSANTARA, Semarang - Di tengah perubahan besar sistem…
NYALANUSANTARA, Gunungkidul- SMK Muhammadiyah Karangmojo meresmikan gedung Ruang…
Komentar