Cap Go Meh 2026 di Kalbar Tampilkan Harmoni Budaya Lewat Festival Naga Bersinar dan Parade Tatung

Cap Go Meh 2026 di Kalbar Tampilkan Harmoni Budaya Lewat Festival Naga Bersinar dan Parade Tatung

NYALANUSANTARA, JAKARTA- Perayaan Cap Go Meh 2577 Kongzili pada tahun 2026 di Provinsi Kalimantan Barat kembali menegaskan daerah tersebut sebagai salah satu pusat perayaan Imlek terbesar di Indonesia. Dua kota utama, Pontianak dan Singkawang, menjadi pusat perhatian dengan tradisi khas masing-masing yang selalu menarik minat masyarakat dan wisatawan.

Pontianak dikenal dengan Festival Naga Bersinar yang digelar di pusat Kota Khatulistiwa. Sementara itu, Singkawang yang dijuluki “Kota Seribu Kelenteng” menghadirkan perayaan dengan nuansa spiritual yang kuat melalui parade tatung serta ritual “cuci jalan” yang menjadi daya tarik utama setiap perayaan Cap Go Meh.

Di Pontianak, rangkaian acara dimulai sejak akhir Februari dengan berbagai kegiatan seperti pekan kuliner dan promosi produk lokal. Setelah itu, masyarakat menyiapkan replika naga bercahaya yang menjadi simbol utama parade Naga Bersinar. Pada puncak perayaan yang berlangsung Selasa (3/3), sebanyak 49 replika naga melintasi Jalan Gajah Mada mulai pukul 21.00 hingga dini hari. Panjang naga yang ditampilkan bervariasi, dari sekitar 20 meter hingga mencapai 118 meter. Seluruh replika tersebut merupakan hasil karya komunitas setempat yang dipersiapkan secara matang sebagai bagian dari perayaan budaya yang melibatkan masyarakat dari berbagai latar belakang.

Perayaan tahun ini memiliki keunikan tersendiri karena bertepatan dengan bulan suci Ramadan. Oleh karena itu, panitia menyesuaikan jadwal parade dengan waktu sahur dan salat Tarawih sebagai bentuk penghormatan kepada umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa. Pemerintah Kota Pontianak menegaskan bahwa Cap Go Meh menjadi simbol keharmonisan sosial yang mencerminkan kerukunan antarwarga.

Selama parade berlangsung, seluruh peserta mengikuti aturan waktu yang telah ditetapkan serta berada dalam pengawasan keamanan yang ketat. Petugas keamanan juga ditempatkan di berbagai titik strategis sepanjang rute parade, termasuk di area keramaian dan persimpangan jalan, untuk memastikan kelancaran lalu lintas serta menjaga situasi tetap aman.

Sementara itu di Singkawang, kemeriahan Cap Go Meh berpusat pada parade tatung, tradisi khas yang sudah menjadi identitas kota tersebut. Selain itu, berbagai atraksi budaya seperti parade naga, kelabang, dan barongsai turut memeriahkan suasana, ditambah dengan bazar kuliner yang menampilkan makanan khas Tionghoa, Dayak, dan Melayu.

Sehari sebelum parade utama, ratusan tatung melaksanakan ritual “cuci jalan” di sekitar Vihara Tri Dharma Bumi Raya. Prosesi ini dipercaya sebagai bentuk penyucian jalur yang akan dilalui dalam parade utama dan menjadi salah satu ritual budaya yang paling dinantikan masyarakat. Keunikan Cap Go Meh Singkawang terletak pada perpaduan antara unsur sakral dan pertunjukan budaya yang berjalan berdampingan.

Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie, menyebut Cap Go Meh bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan warisan budaya yang mencerminkan semangat kebersamaan masyarakat kota tersebut. Menurutnya, Cap Go Meh menjadi simbol keharmonisan antaragama dan antaretnis yang hidup berdampingan secara damai di Singkawang.

Perayaan ini juga mendukung visi Singkawang sebagai kota yang menjunjung tinggi keragaman budaya yang inklusif. Setiap tahunnya, jumlah wisatawan yang datang untuk menyaksikan Cap Go Meh terus meningkat, baik dari dalam negeri maupun mancanegara.

Salah satu warga Pontianak, Maria Paskalia (33), mengaku sangat antusias menyaksikan parade bersama anak-anaknya di Jalan Gajah Mada. Ia mengatakan anaknya sudah menunggu sejak pagi untuk melihat naga bercahaya yang melintas serta berharap mendapatkan “kumis naga” yang dipercaya membawa keberuntungan. Meski bertepatan dengan bulan puasa, ia menilai suasana perayaan tetap berlangsung meriah.


Editor: Lulu

Komentar

Terkini