WNI di China Temukan Makna Mendalam Qingming Festival Lewat Tradisi dan Emosi Universal
NYALANUSANTARA, TIANJIN- Menjelang perayaan Qingming Festival atau Hari Bersih-Bersih Makam di China, Lim Jessica Kalyani, mahasiswi Indonesia di Universitas Tianjin, tetap mengikuti tradisi keluarganya melalui panggilan video.
Bagi Jessica, Qingming bukan sekadar ritual, melainkan bentuk ikatan batin yang mendalam untuk mengekspresikan kerinduan kepada orang-orang tercinta yang telah tiada. Ia mengaku terharu melihat masyarakat China berziarah dengan membawa bunga dan persembahan, membersihkan makam dengan penuh ketulusan, serta “berbicara” kepada leluhur seolah masih hidup.
Perayaan Qingming yang jatuh pada 5 April tahun ini merupakan tradisi berusia lebih dari 2.500 tahun. Selain sebagai momen penghormatan kepada leluhur, festival ini juga sarat makna refleksi kehidupan dan hubungan keluarga.
Menurut Hong Chang, profesor di Universitas Studi Luar Negeri Tianjin, tradisi ini mencerminkan filosofi menghormati yang telah wafat sekaligus merenungkan arti kehidupan. Ritual tersebut memperkuat ikatan keluarga sekaligus menghadirkan kesadaran akan makna eksistensi manusia.
Mahasiswi Indonesia lainnya, Athena Aileen Lengkong asal Surabaya, melihat adanya kesamaan dengan tradisi di Indonesia. Ia menceritakan bahwa keluarganya yang beragama Katolik memiliki cara tersendiri dalam mengenang anggota keluarga, seperti menabur bunga di laut sebagai bentuk penghormatan.
Sementara itu, Wang Yi, pengajar di Universitas Tianjin, menekankan bahwa Qingming tidak hanya bersifat personal, tetapi juga memiliki dimensi kolektif, termasuk penghormatan kepada para pahlawan nasional.
Athena pun mengapresiasi nilai inklusivitas dalam Qingming, di mana siapa pun dapat mengenang orang yang mereka anggap penting dalam hidup. Hal ini dinilai sebagai bentuk rasa syukur kolektif yang indah.
Lebih dari sekadar tradisi duka, Qingming juga dirayakan dengan aktivitas seperti piknik musim semi, menanam pohon, dan menikmati alam. Tradisi ini mencerminkan keseimbangan antara mengenang masa lalu dan merayakan kehidupan yang terus berjalan.
Jessica mengaku turut merasakan pengalaman tersebut, termasuk mencicipi makanan khas seperti qingtuan dan mengikuti kegiatan luar ruang. Ia menilai Qingming sebagai perayaan yang mampu menghubungkan kenangan dengan kehidupan secara aktif dan positif.
Pada akhirnya, baik Jessica maupun Athena sepakat bahwa nilai utama Qingming melampaui batas budaya. Perasaan rindu, penghormatan terhadap kehidupan, serta ikatan keluarga adalah emosi universal yang dapat dipahami oleh siapa saja, tanpa perlu diterjemahkan.
Editor: Lulu
Sumber: Xinhua
Terkini
NYALANUSANTARA, Semarang – Di tengah meningkatnya perhatian publik…
Film animasi David hadir sebagai proyek besar dari…
NYALANUSANTARA,, Sleman — Memulai hidup sehat sering kali…
NYALA NUSANTARA, Semarang – Dua windu lagi menuju…
NYALANUSANTARA, Semarang - Polsek Semarang Tengah, Polrestabes Semarang…
Film Warung Pocong menjadi salah satu rilisan terbaru…
NYALANUSANTARA, Semarang – PT KAI Daop 4 Semarang…
NYALANUSANTARA, Semarang – Kepala Divisi Pelayanan Hukum Kanwil…
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Kia India tengah mengembangkan generasi kedua Kia…
NYALANUSANTARA, Semarang - Menjelang peringatan Hari Buruh Internasional…
NYALANUSANTARA, Semarang – Kanwil Kemenkum Jateng terus memantapkan…
Komentar