Bunda Literasi Jawa Tengah Ajak Santri Tingkatkan Tradisi Menulis untuk Perkuat Literasi di Pesantren

Bunda Literasi Jawa Tengah Ajak Santri Tingkatkan Tradisi Menulis untuk Perkuat Literasi di Pesantren

NYALANUSANTARA, SEMARANG - Bunda Literasi Provinsi Jawa Tengah sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar Rembang, Nawal Arafah Yasin, mengajak para santri untuk mengambil peran sebagai penggerak literasi di lingkungan pesantren. Menurutnya, langkah ini penting untuk memperkuat kembali tradisi keilmuan yang telah lama ada di pesantren.

Nawal menjelaskan bahwa tradisi menulis di pesantren sejatinya sudah mengakar kuat, terbukti dengan banyaknya ulama yang melahirkan karya-karya kitab kuning. Sebagai contoh, Syekh Abdur Rouf As-Singkili yang menulis 21 kitab, dan KH Maimoen Zubair yang menghasilkan 12 kitab.

Namun, ia menilai bahwa tradisi literasi di pesantren mulai mengalami penurunan. Oleh karena itu, ia mengajak santri untuk menghidupkan kembali perjuangan para ulama terdahulu dalam menulis dan melestarikan ilmu.

“Maka mudah-mudahan adik-adik di sini insyaallah nanti akan menjadi mualif-mualif, akan menjadi penulis-penulis,” ujar Nawal saat menjadi narasumber dalam acara Orientasi Santri Ma'had Al-Jami'ah UIN Walisongo di Auditorium Kampus 3 UIN Walisongo Semarang, Selasa, 7 April 2026.

Nawal menyebutkan bahwa pesantren dan literasi adalah dua hal yang saling melekat. Proses pembelajaran di pesantren pada dasarnya adalah praktik literasi yang utuh, mulai dari membaca, memahami, mengajarkan, mendiskusikan, hingga menulis, menerjemahkan, mensyarah, dan mempublikasikan kitab kuning.

Meski demikian, ia mengakui bahwa budaya literasi di pesantren masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti tingginya harga kitab, keterbatasan fasilitas perpustakaan, belum optimalnya pemanfaatan teknologi digital oleh santri, dan menurunnya tradisi menulis serta penerjemahan kitab.

Sebagai solusi, Nawal mendorong pengembangan beberapa langkah strategis, seperti memperkuat perpustakaan pesantren, digitalisasi kitab kuning, pembudayaan tradisi menulis, serta penguatan forum diskusi kitab. Selain itu, ia berharap pemerintah dapat memperluas akses melalui hibah kitab kuning dan fasilitasi pameran kitab.

“Syukur-syukur nanti adik-adik di sini bisa membuat satu tulisan lewat jurnal, ataupun nanti bisa menulis buku,” ujar Nawal, yang juga pengajar di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Anwar Sarang, Rembang, saat berbicara kepada mahasiswa UIN Walisongo.

Pada kesempatan itu, Nawal juga mengapresiasi program-program yang diselenggarakan oleh Ma'had Al-Jami'ah UIN Walisongo, seperti pembelajaran bahasa Arab dan Inggris, kajian kitab kuning, serta pendidikan karakter. Harapannya, program-program tersebut dapat membentuk sarjana intelektual yang sekaligus menjadi ulama.

“Upaya menguatkan nilai-nilai kema'hadan di sini bagus, ada keteladanan, pendisiplinan, pembiasaan ibadah, kajian kitab kuning, aturan, pengawasan, pembinaan, serta kegiatan sosial dan minat,” tambah Nawal.


Editor: Redaksi

Terkait

Komentar

Terkini