Talenta Global Pulang Kampung, Dorong Lonjakan Inovasi Teknologi di Tiongkok

Talenta Global Pulang Kampung, Dorong Lonjakan Inovasi Teknologi di Tiongkok

XINHUA

NYALANUSANTARA, BEIJING- Di Hangzhou, sosok Han Bicheng menjadi contoh nyata gelombang baru talenta global yang kembali ke Tiongkok. Ia kini memimpin perusahaan pengembang teknologi antarmuka otak-komputer—bidang yang sebelumnya masih terbatas di laboratorium saat ia menempuh studi doktoral di Harvard University pada 2018.

Keputusan Han untuk kembali bermula dari pertemuannya dengan delegasi dari Hangzhou di Boston. Tak lama setelah itu, ia memindahkan tim risetnya ke pusat inovasi Kota Iptek Masa Depan Hangzhou, yang menawarkan dukungan penuh dari pemerintah setempat.

Fenomena ini bukan kasus tunggal. Data dari Kementerian Pendidikan Tiongkok menunjukkan bahwa pada 2025 saja, sebanyak 535.600 pelajar yang menempuh studi di luar negeri memilih kembali ke tanah air. Secara kumulatif, lebih dari 6,44 juta dari total 7,43 juta pelajar luar negeri sejak 1978 telah pulang, dengan mayoritas terjadi setelah 2012 seiring pesatnya pertumbuhan ekonomi dan teknologi negara tersebut.

Menurut peneliti Guo Yuanjie, Tiongkok menawarkan ekosistem yang sulit ditandingi: pasar domestik besar, dukungan kebijakan, serta peluang implementasi teknologi secara nyata. Banyak inovasi yang sulit diwujudkan di luar negeri justru bisa berkembang pesat di dalam negeri.

Pandangan ini juga diamini Zhu Hao, yang pernah menempuh studi di University of Illinois Urbana-Champaign dan bekerja di Microsoft serta Amazon. Ia menyebut fokus Tiongkok pada teknologi inti semakin kuat, terutama dalam bidang seperti kecerdasan spasial yang mampu langsung diterapkan di industri.

Pemerintah Tiongkok sendiri aktif menarik talenta global dengan berbagai insentif, mulai dari hibah riset, pendanaan startup, hingga fasilitas perumahan dan relokasi. Di beberapa daerah seperti Sichuan, talenta yang kembali bahkan bisa mendapatkan pendanaan ratusan ribu yuan untuk mengembangkan usaha dan proyek teknologi.

Dukungan ini diperkuat dengan kehadiran pusat inovasi seperti Kota Iptek Masa Depan Hangzhou yang menyediakan layanan terpadu bagi para inovator. Bahkan dalam situasi sulit, pemerintah kerap turun tangan membantu, seperti yang dialami pendiri platform AI Fotor di Chengdu saat menghadapi krisis pendanaan.

Kebijakan jangka panjang ini diperkirakan akan terus diperkuat dalam Rencana Lima Tahun ke-15 (2026–2030), dengan fokus pada kemandirian teknologi dan pengembangan industri masa depan.

Fenomena kembalinya talenta global ini menandai transformasi besar dalam ekosistem inovasi Tiongkok. Jika sebelumnya tokoh seperti Robin Li dan Charles Zhang mendominasi era internet, kini generasi baru mulai memimpin di bidang-bidang mutakhir seperti AI, komputasi kuantum, dan antarmuka otak-komputer.


Editor: Lulu

Komentar

Terkini