Kunjungi Gunungkidul, Kemenko PMK dan UGM Siapkan Pilot Project Penanganan Kesehatan Mental

Kunjungi Gunungkidul, Kemenko PMK dan UGM Siapkan Pilot Project Penanganan Kesehatan Mental

NYALANUSANTARA, Gunungkidul– Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Gunungkidul, pada Selasa, 5 Mei 2026, untuk menindaklanjuti hasil audiensi Bupati Gunungkidul dengan Menko PMK pekan lalu. Kunjungan ini menitikberatkan pada penguatan sektor pendidikan dan kesehatan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat setempat.

Dalam sektor pendidikan, tim Kemenko PMK meninjau permasalahan sekolah di wilayah Wonosari dan Saptosari. Rencana strategis yang tengah dikaji adalah pengembangan sekolah terintegrasi sebagai upaya jangka panjang untuk mengatasi kendala pendidikan di daerah tersebut.

Selain pendidikan, isu kesehatan mental menjadi fokus utama. Berdasarkan data terbaru, terdapat lebih dari 1.800 Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Gunungkidul, dengan rata-rata kasus bunuh diri mencapai 27 per tahun. Menanggapi kondisi ini, Kemenko PMK bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) berencana menjadikan Gunungkidul sebagai proyek percontohan (pilot project) penanganan kesehatan jiwa.

“Kami ingin memastikan gangguan kesehatan mental tidak berdampak buruk pada generasi muda. Ini adalah langkah antisipasi yang harus dimulai dari tingkat daerah,” ujar Prof. Sukadiono, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan Kemenko PMK, saat meninjau RSUD Saptosari. 

Kemenko PMK juga mengapresiasi kesiapan RSUD Wonosari yang telah memiliki dua dokter spesialis jiwa serta fasilitas rawat jalan dan rawat inap yang memadai.

Selain kesehatan jiwa, pengembangan layanan Hemodialisa (HD) atau cuci darah juga menjadi prioritas. Saat ini antrean pasien mencapai 278 orang. Rencana pengembangan mencakup RSUD Wonosari dengan tambahan kapasitas hingga 20 tempat tidur, serta RSUD Saptosari dengan target 10 tempat tidur. 

“Fasilitas fisik dan instalasi oksigen sentral di RSUD Saptosari telah siap. Langkah berikutnya adalah pengadaan alat kesehatan dan tempat tidur rumah sakit,” kata Ismono, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul.

Ismono menambahkan, Kemenko PMK mendorong RSUD Saptosari untuk mengembangkan statusnya dari rumah sakit Kelas D menjadi Kelas C dengan menambah unit layanan di berbagai aspek. Bupati Gunungkidul juga diarahkan untuk melakukan audiensi langsung dengan Menteri Kesehatan guna membahas kekurangan Sumber Daya Manusia (SDM), termasuk dokter spesialis, perawat, psikolog, serta pemenuhan kebutuhan obat-obatan jiwa.

Pemerintah pusat berkomitmen mengawal pengadaan alat kesehatan dan renovasi fasilitas agar layanan kesehatan di Gunungkidul, khususnya untuk layanan jiwa dan cuci darah, dapat segera dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
 


Editor: Redaksi

Terkait

Komentar

Terkini