Efek Domino Krisis Timur Tengah: Sektor Manufaktur Malaysia Terancam Lumpuh

Efek Domino Krisis Timur Tengah: Sektor Manufaktur Malaysia Terancam Lumpuh

XINHUA

NYALANUSANTARAKUALA LUMPUR – Sektor manufaktur Malaysia dilaporkan berada dalam kondisi kritis akibat dampak berkepanjangan konflik di Timur Tengah. Federasi Manufaktur Malaysia (FMM) mengungkapkan bahwa gangguan logistik dan lonjakan biaya pengiriman kini telah merambah ke seluruh rantai nilai industri, mengancam stabilitas ekonomi perusahaan hingga sektor ketenagakerjaan.

Dalam rilis resminya pada Kamis (7/5), FMM memaparkan hasil survei terhadap 225 perusahaan manufaktur yang menunjukkan potret suram industri saat ini.

Rantai Pasok Tercekik dan Biaya Meroket

Gangguan rute pelayaran internasional menjadi pemicu utama krisis ini. Sebanyak 86 persen produsen melaporkan waktu transit kapal yang jauh lebih lama akibat pengalihan rute melalui Tanjung Harapan.

Durasi Pengiriman: Rute ke Eropa membengkak menjadi 35–45 hari, dari yang sebelumnya hanya 25–30 hari.

Biaya Logistik: 87 persen responden mengeluhkan tarif pengiriman yang tetap tinggi dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.

Kelangkaan Bahan Baku: 70 persen produsen mengalami kesulitan pasokan, dengan 40 persen di antaranya hanya memiliki stok bahan baku untuk satu hingga dua bulan ke depan.

Arus Kas Tertekan dan Ancaman PHK

Krisis ini tidak lagi hanya sebatas masalah distribusi, namun telah mulai mengguncang aspek finansial dan operasional perusahaan secara mendasar.

“Konflik ini tidak lagi hanya berimbas pada tarif transportasi, tetapi telah mengurangi produksi, membebani keuangan perusahaan, dan membahayakan lapangan kerja,” tegas pihak FMM.


Editor: Lulu

Komentar

Terkini