BCA: Investasi Tiongkok Berpotensi Jadi Penopang Ekonomi Indonesia
XINHUA
NYALANUSANTARA, JAKARTA- Tim ekonom Bank Central Asia menilai Tiongkok berpotensi memberikan dorongan positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah ancaman perlambatan ekonomi global dan melemahnya sejumlah indikator domestik.
Dalam laporan The Focal Point yang dirilis pekan lalu, ekonom BCA menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia kemungkinan telah mencapai puncaknya pada kuartal pertama 2026. Meski demikian, arus investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) dari China dinilai masih dapat menjadi penyangga penting bagi perekonomian nasional.
Pada kuartal pertama 2026, ekonomi Indonesia tercatat tumbuh 5,61 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut ditopang tingginya belanja pemerintah serta meningkatnya konsumsi masyarakat selama bulan Ramadan dan Hari Raya Idulfitri.
Namun, prospek pertumbuhan ekonomi untuk sisa tahun ini dinilai menghadapi tekanan akibat kondisi global yang kurang kondusif, termasuk kontraksi pada indeks PMI manufaktur bulan lalu.
Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi Republik Indonesia, investasi asal China pada kuartal pertama tahun ini meningkat 22 persen dibanding tahun sebelumnya menjadi 2,2 miliar dolar AS. Angka tersebut melampaui pertumbuhan FDI nasional secara keseluruhan yang hanya tumbuh 8,5 persen.
Ekonom BCA juga menilai investasi China kini mulai lebih beragam. Jika sebelumnya banyak terfokus pada sektor hilirisasi nikel, kini investasi mulai masuk ke sektor manufaktur lainnya seiring besarnya pasar domestik Indonesia dan berkurangnya daya tarik ekspor ke pasar Amerika Serikat.
Selain membantu industrialisasi, investasi asal China disebut mampu menciptakan lapangan kerja lebih besar dibanding negara lain. Berdasarkan perhitungan tim ekonom BCA, setiap investasi 1 juta dolar AS dari China dapat menciptakan sekitar 18,4 lapangan kerja, lebih tinggi dari rata-rata negara lain sebesar 17,3 pekerjaan.
Di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah, masuknya produk impor murah dari China juga dianggap membantu menjaga stabilitas harga di pasar domestik sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga.
Dari sisi pembiayaan negara, kondisi pasar obligasi China yang relatif stabil membuka peluang bagi pemerintah Indonesia memperoleh sumber pendanaan dengan biaya lebih rendah. Pemerintah diketahui telah meningkatkan penerbitan obligasi berdenominasi yuan melalui instrumen Dim Sum Bonds dan berencana menerbitkan Panda Bonds dalam waktu dekat.
Meski begitu, laporan tersebut turut mengingatkan adanya potensi risiko dari meningkatnya investasi dan impor China, terutama terhadap neraca transaksi berjalan serta daya saing industri dalam negeri apabila tidak dikelola dengan baik.
Editor: Lulu
Terkini
Semarang – Universitas Diponegoro (UNDIP) kembali menorehkan prestasi…
Semarang – Prestasi kembali ditorehkan oleh sivitas akademika…
NYALANUSANTARA, Semarang – Gelandang anyar PSIS Semarang, Syahrian…
Pemkot Semarang-Masyarakat Rawat Harmoni dalam Perayaan Kedatangan Kimsin YS Poo Seng Tay Tee ke-166
NYALANUSANTARA, Semarang - Pemerintah Kota atau Pemkot Semarang…
NYALANUSANTARA, Semarang – Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng,…
NYALANUSANTARA, Semarang - Perkembangan E-Sport dalam beberapa tahun…
NYALANUSANTARA, Semarang - PSIS Semarang resmi memperpanjang kontrak…
NYALANUSANTARA, Jakarta – Pebalap muda binaan PT Astra…
NYALANUSANTARA, Semarang - PSIS Semarang kembali menambah amunisi…
NYALANUSANTARA, Semarang – Bandara Internasiobal Jenderal Ahmad Yani…
NYALANUSANTARA, Semarang – PT KAI Daop 4 Semarang…
Komentar