Pakar Lingkungan Ini Soroti Proyek PLTSa di Jateng Terkait Tantangan Keekonomian dan Rantai Pasok Sampah

Pakar Lingkungan Ini Soroti Proyek PLTSa di Jateng Terkait Tantangan Keekonomian dan Rantai Pasok Sampah

NYALANUSANTARA, Semarang– Rencana pemerintah daerah Jawa Tengah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) menghadapi tantangan serius. Proyek yang diharapkan menjadi solusi ganda untuk mengurangi sampah sekaligus menghasilkan energi listrik ini terkendala keekonomian dan ketidakstabilan rantai pasok sampah di hulu.

Pakar Lingkungan dari Universitas Katolik Soegijapranata (SCU) Semarang, Benny Danang Setianto, menekankan bahwa dari 12 lokasi Proyek Strategis Nasional (PSN) PLTSa di Indonesia, sejauh ini hanya satu lokasi yang beroperasi konsisten, yakni di Benowo, Surabaya.

Menanggapi rencana kerja sama pembangunan PLTSa baru antara Kota Semarang dan Kabupaten Kendal, Benny mengingatkan agar pihak terkait menghitung ulang nilai investasi yang sangat besar dan memastikan pasokan sampah yang cukup ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

“Investasinya terlalu besar. Dari 12 lokasi prioritas PLTSa, yang benar-benar beroperasi cuma satu di Surabaya. Semarang saya rasa masih berat, investasinya mahal,” kata Benny dalam diskusi lingkungan di Pringsewu, Kota Lama Semarang, Sabtu (16/5/2026).

Menurut Benny, kegagalan PLTSa di beberapa daerah disebabkan rendahnya persentase sampah warga yang berhasil sampai ke TPA. Distribusi sampah dari hulu ke TPA rata-rata belum mencapai 50 persen, karena banyak sampah tercecer, dibuang sembarangan, atau hanyut di sungai. Kondisi ini membuat volume sampah yang terkumpul tidak sebanding dengan biaya operasional mesin yang tinggi, seperti yang dialami di Solo.

“Kenyataannya distribusi sampah yang sampai ke TPA baru menyentuh sekitar 50 persen. Target tonase 500-an ton di Solo hanya terkumpul sekitar 50-an ton. Secara keekonomian, itu sulit diubah menjadi energi karena biaya operasional terlalu tinggi,” jelas Benny.

Selain persoalan pasokan, pemilihan teknologi menjadi dilema ekologis. Teknologi insinerator atau pembakaran massal relatif lebih murah dibanding penangkapan gas metan, tetapi menimbulkan polusi udara baru yang bertentangan dengan komitmen net zero emission. Sementara itu, teknologi membran penutup sampah untuk menangkap gas metan, seperti yang diterapkan di TPA Jatibarang Semarang, masih menyisakan masalah lingkungan berupa pengelolaan air limbah atau air lindi.

“Tapi insinerator itu kalau ditempatkan dalam kerangka net zero emission justru menciptakan polusi baru. Sedangkan teknologi membran plastik menimbulkan masalah pengelolaan lindi yang belum bisa diatasi dengan baik di Indonesia,” pungkas Benny.
 

preferred sources in Google Searc


Editor: Redaksi

Terkait

Komentar

Terkini